LANGIT7.ID, Jakarta - Peringatan dini terhadap potensi
resesi ekonomi global 2023 sudah digaungkan berbagai institusi finansial global seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia. Bahkan, firma riset investasi Ned Davis Research memprediksi terdapat 98,1% kemungkinan
resesi terjadi tahun depan.
Menurut Presiden ke-6 RI (2004-2014),
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), negara-negara di dunia sudah punya pengalaman menghadapi resesi. Dia menilai resesi itu hanya bersifat sementara. Meski begitu, negara-negara di dunia harus tetap berusaha.
Baca Juga: Resesi Global Diprediksi Terjadi 2023, Ini Saran Ekonom
“Sepertinya, ekonomi global bakal masuki resesi. Seberapa dalam dan berapa lama kita tidak tahu. Pada saatnya, badai pasti berlalu. Habis gelap, terbitlah terang. Begitulah sejarah krisis ekonomi sejak depresi dahsyat tahun 1930-an. Syaratnya, dunia dan semua negara harus berikhtiar,” kata SBY melalui akun twitter-nya, Kamis (27/10/2022).
Resesi ekonomi merupakan kondisi di mana perekonomian suatu negara mengalami penurunan aktivitas secara signifikan dalam jangka waktu yang lama. Penurunan produk domestik bruto (PDB), kenaikan angka pengangguran, dan menurunnya kepercayaan konsumen menjadi tanda-tanda resesi ekonomi dalam suatu negara.
Baca Juga: Jokowi Ajak Masyarakat Tetap Optimis Hadapi Krisis Global
“Resesi dalam arti luas adalah memburuknya perekonomian. Ada tekanan berat terhadap fundamental ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pertumbuhan anjlok, inflasi tinggi, pengangguran meningkat, penghasilan dan daya beli turun, utang bebani fiskal dan terbatasnya sumber daya untuk stabilisasi ekonomi,” ujar SBY.
SBY menuturkan, semua negara akan diuji seperti dalam resesi global 2008. Suatu negara bisa bertahan ditentukan ikhtiar yang dilakukan.
“Bisa bertahan dan melangkah ke depan atau terjatuh dan bangkitnya lama. Sukses itu fungsi dari ikhtiar. Juga hasil dari proses dan kecakapan. Atasi krisis perlu ketepatan dan kecepatan.
First thing first. Insya Allah kita bisa,” pungkas SBY.
(jqf)