LANGIT7.ID, Semarang - Potensi pasar ikan koi di Kota Semarang khususnya, dan Indonesia pada umumnya saat ini cukup bagus. Hal itu pula yang menjadikan Alfin, alumni Fakultas Hukum Undip ini memutuskan untuk menjalankan bisnis budidaya koi.
“Koi dan arwana itu pasar selalu ada. Setiap orang mungkin belum mampu di rumahnya ada kolam, tapi kemauaan itu pasti ada,” kata Alvin, dalam sesi wawancara di Channel Youtube Semarang Pemkot.
Baca juga: Mantan Jurnalis Ini Sukses Hasilkan Puluhan Juta dari Budidaya Ikan Mas KokiSebelum menekuni budidaya koi, Alvin sudah mencoba untuk bekerja di bidang lainnya. Akan tetapi, dia memutuskan untuk fokus hanya mengurus ikan koi saja, ketika usaianya masih 30 tahun. Meski, pada saat itu juga sudah menjalanka usaha rental mobil. Budidaya koinya itu diberi nama Good Koi.
Selanjutnya, kolam lele di rumahnya, di Mijen Permai Blok B 141 Semarang pun disulap menjadi kolam koi. Sebelum dipakai buat lele, kolam itu akan pakai untuk septic tank sedalam 3 meter, tapi tidak jadi dipakai.
“Modal dengan rental hampir sama, saya putuskan untuk ke koi,” ucapnya.
Ada tiga warna koi yang dibudidayan, yakni dari jenis gosanke, yang dalam arti harfiah Jepang bermakna tiga keluarga. Ada tiga warna dari jenis ini yang populer, di antaranya kohaku,sanke dan showa.
Showa itu berwarna merah putih hitam, hitamnya sampai di mulut. Adapun sanke, merah putih hitam, tapi hitamnya hanya sampai di mulut. Sementara kohaku, adalah nama koi yang warnanya merah dan putih saja.
Sebelum memulai usaha, ia belajar dan mencari banyak referensi jenis-jenis koi yang murah dan mahal. Selain itu juga beajar melalui tutorial di Youtube, dalam pembuatan kolam, dari bahan semen maupun yang memanfaatkan fiber. Kerja kerasnya itu pun tidak sia-sia, setelah beberapa lama, 2018, sudah mulai memasarkan ikan.
“Harganya bervariasi, mulai Rp50 ribu sampai Rp3 juta. Tapi untuk di Semarang, yang kelas menengah, yang ramai antara harga Rp50 ribu-Rp300 ribu.
Baca juga: Keuntungan Budidaya Maggot, Alternatif Pengolahan Sampah OrganikPerlu diperhatikan dalam budidaya koi ini adalah memastikan bahwa kolam yang akan digunakan benar-benar bersih. Bisa dipastikan dengan kondisi air yang idak berbuih, dan ikan tidak menggesek-gesekkan badannya ke tepi kolam.
Filtrasi, maupun PH di dalam air, maupun kandungan-kandungan mineralnya, tidak bisa dipandang sebelah mata. Filrasi pada kolam ini, perhitungannya menggunakan asumsi volume filtrasi ini minimal 30 % dari volume kolam, lebih besar akan lebih bagus.
Dikatakan, jika filtrasi sesuai batas minimal, dan pertumbuhannya akan lebih bagus. Jika memungkinkan, diberi arus bawah, tidak air atas saja agar bisa membuang kotoran. Karena Ikan yang sehat itu ikan yang bergerak melawan arus.
“Lebih bagus dikasih aerator, gelembung air, untuk ikan yang banyak. Kalau ikan sedikit, satu dua, tdiak masalah dikasih air arus atas saja,” ucapnya.
Ia memastika bahwa ikan yang terjual benar-benar dalam kondisi sehat. Karena ikan yang tidak sehat bisa dipastikan jika kondisinya tidak lincah dan nafsu makannya akan turun. Kemudian imun turun dan mudah terserang penyakit. Seperti ada jamur di siripnya, kemudian sisiknya ada guratan-guaratan warna merah.
“Tetap berisiko, bermain barang yang bernyawa,” ucapnya.
Tidak kalah penting yang harus diperhatikan bagi pemula adalah melakukan karantina ikan, jika baru membeli dari seller atau pun petani. Meski ikan saat dibeli dalam kondisi sehat, hal ini tidak menjadi jaminan ikan akan tetap sehat di tempat baru. Langkah Karantina bisa dilakukan dengan memasukkan ikan di dalam akuarium ukuran 100 x 50 centimeter selama 20 menit.
“Ikan stres bisa terjadi, jika tidak dikarantina terlebih dahulu. Ikan butuh penyesuaian, misal PH airnya. Untuk koi yang cocok PH 7-8,“ tuturnya.
(zul)