LANGIT7.ID, Jakarta - Saat mendapati sang buah hati memainkan alat kelamin, umumnya reaksi orang tua akan terkejut dan bingung harus berbuat apa. Padahal, perilaku tersebut adalah hal yang wajar terjadi di masa perkembangan anak, khususnya usia 4 hingga 6 tahun.
Namun, kebanyakan orang tua di Indonesia akan bingung bertindak bila menyangkut masalah seksualitas. Terlebih, isu seks masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan, utamanya pada anak-anak. Orang tua pun akan mengalihkan atau menutupi informasi tentang seksualitas dari anak-anak.
Dokter spesialis anak, dr Kurniawan Satria Denta menyebut orang tua sebagai sumber informasi untuk anak-anaknya, termasuk soal seksualitas. "Orang tua adalah rujukan utama anak untuk diskusi masalah ini. Jangan sampai amit-amit anak-anak kita kalau penasaran soal ini, dapat informasinya malah dari sumber lain yang tidak bisa dipercaya," kata dr Denta dalam keterangan tertulis yang diterima
Langit7.id, Selasa (8/11/2022).
Baca Juga: Ajarkan Nilai Kesopanan pada Anak Lewat 7 Cara Islami Inidr Denta mengingatkan, di zaman arus informasi saat ini, amat mustahil untuk menghalangi atau memfilter informasi yang masuk kepada anak. "Yang harusnya kita lakukan adalah menanamkan pondasi berpikir yang baik, agar mereka pada akhirnya bisa dengan kritis memilah mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk hidupnya," tambahnya.
Terkait anak memainkan alat genital atau masturbasi pada balita, dr Denta mengungkapkan bahwa usia ini merupakan fase di mana anak-anak senang menjelajah hal-hal di sekitar mereka. Salah satunya terkait organ intim.
"Organ genital manusia memang dirancang untuk menjadi salah satu organ dengan banyak ujung saraf yang akan memberikan sensasi kenikmatan ketika distimulasi. Jadi, nggak heran ya kalau mereka tiba-tiba saat eksplor tubuhnya, jadi cenderung memainkan genital daripada organ tubuh lainnya, karena sensasi tadi itu," ujarnya.
Meski lumrah dan wajar dilakukan, lanjut dr Denta, bukan berarti orang tua lantas mendiamkan perilaku tersebut. Momen ini bisa dimanfaatkan orang tua untuk memberikan pengertian kepada si kecil tentang bagaimana sebaiknya berperilaku yang baik berkaitan dengan kebiasaan barunya tersebut.
"Yang jelas satu, jangan panik, jangan histeris, dan jangan dimarahin anaknya. Marah-marah hanya akan membuat anak ikutan bingung dan bisa berujung trauma," ucap dr Denta.
"Jelaskan dengan baik mulai dari apa itu organ genital. Perbedaannya antara laki-laki dan perempuan, sampai ke aturan-aturan berpakaian yang sesuai dengan norma dan kepercayaan yang berlaku di keluarganya," lanjutnya menerangkan.
Baca Juga: Infeksi HIV di Usia Produktif, Ini Hikmah Larangan ZinaSelain itu, dr Denta mengimbau kepada orang tua untuk memberikan edukasi kepada anak menggunakan bahasa yang sesuai untuk merujuk ke organ genital, seperti penis dengan penis, vagina dengan vagina. "Jangan gunakan bahasa-bahasa lain yang bertujuan untuk menyamarkan kata-kata yang dianggap tabu," cetusnya.
Dia juga mengingatkan orang tua untuk menjelaskan nilai privat dari kata-kata tersebut. Sehingga anak memahami tempat dan waktu kata-kata tadi dapat disebutkan.
"Ajarkan mereka batasan, yang mana yang privat, yang mana yang bukan. Sampaikan aturan main yang jelas, misal tidak boleh ada yang menyentuh organ privat mereka, atau mereka harus terbuka soal pertanyaan-pertanyaan tentang seksualitas kepada orang tua, pihak yang paling dipercaya oleh anak," lanjutnya.
Jika anak suka memainkan genital-nya, orang tua bisa mengalihkan perhatian mereka dengan membentuk interaksi seperti bermain dan belajar. Sehingga sang anak akan mendapatkan kegiatan yang punya nilai kepuasan dibanding memainkan genital.
"Karena pada dasarnya buat anak-anak tuh, tidak ada yang lebih memuaskan daripada menghabiskan waktu bersama orang tuanya," terang dr Denta.
Lantas, kapan harus memeriksakan anak ke dokter anak? Menurut dr Denta, orang tua dapat memeriksankan anak ke dokter bila perilaku tersebut dilakukan secara konsisten.
"Bawa ke dokter anak jika kebiasaan masturbasi tersebut secara konsisten muncul dan anak sulit dialihkan perhatiannya dari masturbasi, atau ketika perilakunya mulai tampak tidak wajar untuk anak seusianya. Seperti misalkan menirukan gaya seks orang dewasa, atau mulai menyakiti dirinya sendiri," tuturnya.
Baca Juga:
Sebelum Kenalkan Pendidikan Seks, Ubah Pola Pikir Orang Tua Lebih Dulu
Begini Cara Jelaskan Penyimpangan LGBT kepada Anak(gar)