LANGIT7.ID - , Jakarta - Berbicara
pendidikan seks kepada anak tentu sangat kompleks, terlebih di Indonesia yang masih menganggap tabu. Padahal mereka lupa bahwa informasi mengenai pendidikan seks sangat berguna untuk semua anak.
Dokter spesialis anak RSIA Bina Medika Fransisca Handy mengatakan ketika ingin berbicara seks yang terpenting adalah pola pikir orang tua, bahwa manusia adalah makhluk seksual.
"Jadi seksualitas itu tidak akan lepas dari kehidupan kita sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan," ujar Fransisca dalam acara bertajuk "Pentingnya Mengenalkan Pendidikan Seks pada Anak Sejak Dini," Senin (25/7/2022).
Baca juga: Ustadz Amar: Ubah Cara Pandang Edukasi Seks TabuMenurut dia, seks memiliki banyak aspek sebut saja aspek biologis, psikologis, sosial dan lainnya. Dalam aspek-aspek tersebut dipengaruhi oleh banyak hal.
Secara biologis, seks merupakan karakteristik yang menunjukkan identitas sesuai dengan
jenis kelamin. Seks dibentuk dari sejak lahir, bahkan dari masa kandungan berbarengan dengan organ-organ lainnya, seperti jantung, paru-paru, mata dan banyak lagi.
"Pada saat janin berusia 12 minggu, hampir semua organnya selesai dibentuk, termasuk alat kelamin. Pada laki-laki memang prosesnya sedikit rumit, terdapat pembentukan saluran-salurannya dan lainnya, tetapi intinya di masa janin perkembangan seks secara biologis itu sudah terjadi," ucapnya.
Fransisca menjelaskan, sejak janin, hormon-hormon seksual sudah bekerja. Setelah lahir
hormon-hormon tersebut menurun dan ia bersifat dorman alias tidur, tetapi bukan berarti tidak ada.
Baca juga: Edukasi Seks dalam Islam, Tak Hanya Sebatas Hubungan Seksual"Bayi perempuan ketika baru beberapa hari sudah mens, itu karena hormon estrogen ibu, artinya tubuh bayi bisa merespon. Terus ada juga bayi laki-laki maupun perempuan tumbuh payudaranya waktu masih bayi, itu namanya
thelarche," katanya.
Biasanya, ucap dia proses-proses tersebut setelah bulan pertama usai maka hormon akan mereda, namun ia bersifat dorman dan akan kembali lagi di masa pra pubertas. Menurut Fransisca ketika orang tua baru membicara perihal seks ketika ia masa pra pubertas maka sudah terlambat.
"Pra pubertas terjadi pada anak usia SD awal setelah masa balita. Jika berbicara seksnya di masa itu maka sudah amat sangat terlambat. Jadi, hormon seksual itu kembali muncul di masa pra
pubertas tetapi tidak seintens ketika pubertas tentunya, tetapi ia sudah mulai," tutur Fransisca.
Fransisca menekankan pemahaman dasar yang penting untuk dipahami oleh orang tua bahwa manusia merupakan mahluk seksual.
"Jadi pemahaman dasar yang perlu kita ketahui, terutama orang tua adalah manusia merupakan makhluk seksual. Itu menyertai tubuh sejak janin dan dibawa terus tumbuh kembangnya. Sehingga kita sebagai orang tua perlu untuk memberikan pengetahuan aktivitas seksual secara biologis pada setiap manusia," katanya.
Baca juga: Edukasi Seks dalam Islam: Ajarkan Fitrah, Lindungi Anak dari Pornografi dan Pergaulan Bebas"Jadi membicarakannya sejak anaknya lahir, kemudian secara bertahap penyebutan alat kelamin dan bagaimana memperlakukan anak perempuan dan laki-laki," pungkas Fransisca.
(est)