LANGIT7.ID, Jakarta - Isu
resesi 2023 dinilai akan menjadi momok bagi dunia industri dan individu. Sebab mesin
perekonomian dunia digerakkan oleh Amerika, China dan Eropa.
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis
Universitas Paramadina, Muhammad Ikhsan menilai, masalah inflasi di Amerika Serikat, isu iklim di China dan perang Rusia dan Ukraina di Eropa menjadi permasalahan global.
"Selain itu persaingan Amerika Serikat - Tiongkok di Kawasan Asia Timur dan pemulihan dunia pasca-
pandemi Covid-19," kata Ikhsan dalam keterangannya diterima
Langit7, Senin (14/11/2022).
Menurut dia, pandemi berdampak pada pelaku usaha dan rumah tangga. Pelaku usaha tidak bisa bekerja karena lockdown dan akhirnya terpaksa mengambil kebijakan PHK. Lalu akibatnya banyak muncul
pengangguran.
Baca Juga: Resesi Global Diprediksi Terjadi 2023, Ini Saran Ekonom"Seluruh negara memberikan bantuan kepada masyarakatnya untuk menjaga daya beli. Akibatnya terlalu banyak perputaran uang di lapangan dan terjadi inflasi," ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ariyo DP Irhamna.
Inflasi ini menurut Ariyo merupakan 'Bom Waktu' yang pasti akan terjadi selama pandemi. Kenaikan inflasi ini ditandai dengan kenaikan global inflation pada 2021 sebesar 4,7 persen menjadi 7,5 persen pada 2022.
Menurut Ariyo situasi di Ukraina juga mempercepat 'Bom Waktu' tersebut. Pasokan gas yang terganggu menyebabkan inflasi semakin tidak terkendali.
Neraca Dagang IndonesiaDari keadaan global tidak mempengaruhi gejolak perekonomian di dalam negeri. Melihat neraca dagang Indonesia dengan negara lain, Indonesia tidak akan terkena dampak signifikan terhadap keadaan global tersebut.
Menurut Ariyo pada 2021 pertumbuhan nilai ekspor menyumbang tingkat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 24.04 persen.
Dari 10 negara yang menjadi pembeli terbesar produk Indonesia, 6 diantaranya mengalami trade surplus. Hanya 4 negara yang mengalami trade defisit yakni China, Singapore, Korea dan Thailand.
Selain itu neraca dagang triwulan 2 tahun 2022 mengalami surplus sebesar USD 15,55 milyar meningkat dari triwulan 1 tahun 2022 sebesar 67,85 persen.
"Artinya perdagangan Indonesia dengan mitra dagang dunia yang lain masih tergolong baik," ujarnya.
Menurut Ariyo isu resesi di Indonesia tidak begitu ditakuti. Berbeda dengan krisis yang disebabkan oleh pandemi.
"Kan krisis tidak terjadi saat ini saja. Biasanya di jaman Pak Harto 32 tahun lebih ada krisis. Biasanya kalau proyek ini ditunda. Namun sepertinya di era sekarang tidak mungkin terjadi," katanya.
(bal)