LANGIT7.ID, Jakarta - DKM Masjid Daarut Tauhid Bandung, Ustadz Agus Mubarok mengajak umat muslim untuk mengembalikan kejayaan masjid. Hal ini ia sampaikan dalam kajian bertajuk Back To Masjid (Mengembalikan Kejayaan Ummat).
Menurut Ustadz Agus Mubarok, saat ini masjid seringkali diartikan sebagai tempat ibadah salat saja tidak lebih. Padahal, katanya Rasulullah SAW ketika melaksanakan pembangunan masjid di Madinah, bukan hanya dipakai untuk salat lima waktu tetapi juga bagaimana mentarbiyah para sahabat nya.
"Itu dilakukan di masjid, begitu pula ketika Rasulullah menerima tamu dan menerima konsultasi itu di masjid dan ketika akan melaksanakan perang Rasulullah mengatur strategi perang di masjid," ujar Ustaz Agus pada kajian virtual yang diikuti Langit7, Rabu (23/11/2022).
Baca juga: Program Kaderisasi DKM ala Masjid Daarul MuqarrabienDia lantas memberikan tiga cara untuk mengembalikan kejayaan masjid, diantaranya;
Mengembalikan fungsi masjidUstaz Agus berkata, umat muslim harus membangun peradaban masjid dan kejayaan masjid dengan mengembalikan
fungsi masjid, yakni sebagai pusat pendidikan dan tarbiyah umat.
Masjid jangan hanya dipakai untuk salat lima waktu saja, tetapi yang pertama adalah bagaimana masjid sebagai pusat pendidikan. Sebab ketika pendidikan diawali dan dibangun di masjid maka outputnya akan melahirkan jiwa yang berbasis masjid.
"Misal ketika seseorang di luar sana menjadi politikus, maka nilai pribadinya adalah pribadi masjid. Ketika jadi pengusaha maka hati nuraninya adalah hati nurani yang diciptakan pada masjid. Seorang pengusaha yang sukses ketika hati nuraninya dibangun dari masjid maka dari hasil usahanya ia akan bagikan untuk kebangkitan umat dan untuk kemakmuran masjid," katanya.
Baca juga: Berdoa dan Minta Petunjuk Allah, Aa Gym: Semua Masalah Jadi MudahBeda halnya dengan seorang pengusaha yang jauh dari nilai-nilai masjid, kemungkinan keuntungannya ia pakai untuk foya-foya dan untuk sebatas kesenangan dunia.
Tempat berkonsultasi dan bermusyawarah umatMenurut Agus, bermusyawarah boleh dilakukan di masjid, bahkan untuk pembahasan yang tidak berbau keagamaan.
Misal rapat terkait dengan persiapan 17 Agustus, yang biasanya dilakukan di kantor RW. Namun jika di kantor RW tidak bisa ataupun mereka belum memilikinya, maka boleh dilakukan di masjid.
"Mudah-mudahan ketika rapatnya di masjid maka ada suatu ilham atau suatu gerakan bahwasanya yang tadinya mungkin diisi dengan acara-acara sia-sia, karena dilakukan di masjid rapatnya bisa ada perencanaan-perencanaan yang bisa mengingatkan kepada Allah," ucap Ustaz Agus.
Baca juga: Masjid Daarul Muqarrabien, Oase Pengingat Akhirat di Tengah Ibu Kota"Misal awalnya pengen bikin acara yang ingin mengundang artis dengan aurat terbuka tetapi ketika rapat di
masjid itu jadi ditiadakan, dan diganti dengan tabligh akbar, khitanan massal, sumbangan dan lainnya," lanjut dia.
Rasulullah SAW menerima konsultasi dari sahabatnya, yang dilakukan di masjid. Baik itu konsultasi terkait dengan keluarga, pola asuh anak, dan lainnya.
Melakukan kegiatan sosial kemasyarakatanArtinya selalu melakukan gotong royong dan berempati ketika salah satu dari mereka ada yang terkena musibah. Dia berpendapat untuk kegiatan ini hampir setiap masjid melakukannya, dan ia sangat menyukuri itu.
"Kemudian masjid juga bisa dijadikan sebagai pelayanan pengobatan. Ini salah satu bagian dari memberikan kegiatan sosial," imbuhnya.
Ustadz Agus lantas berkata ketika masjid dikembalikan pada fungsinya seperti yang Rasulullah bangun bahwasanya masjid sebagai pusat kegiatan umat, sebagai pusat peradaban umat maka dari masjid akan terbangun generasi-generasi yang baik.
(sof)