LANGIT7.ID, Jakarta - Tiga bulan pasca Indonesia merdeka, Kota Surabaya menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Arek-arek Suroboyo yang berjuang melawan sekutu, disulut semangatnya tidak hanya dengan pekik merdeka, tapi juga dengan takbir yang dikumandangkan oleh Soetomo atau Bung Tomo.
“Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!. Dan kita yakin saudara-saudara.Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar, percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka," demikian kutipan pidato Bung Tomo kala itu.
Dalam biografinya, Bung Tomo menyebut alasan pekik takbir itu karena hanya mengharap perlindungan Allah semata.
“Perlindungan Allah itu hanya bisa terjadi kalau kita menyadari bahwa Allah itu Maha Kuasa. Untuk menunjukan Allah itu Maha Kuasa saya kira perlu diresapkan makna ucapan yang selalu menggetarkan jiwa manusia, baik pada waktu perang maupun waktu mendengar seruan adzan, Allahu Akbar,” kata Bung Tomo.
Menurut Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (INAIFAS), Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, takbir Bung Tomo muncul karena ia adalah figur yang religius, bahkan dekat dengan para ulama. Salah satunya dengan KH Hasyim Asy'ari, tokoh yang mendeklarasikan Resolusi Jihad melawan penjajah.
"Bung Tomo mengenal Kiai Hasyim pada saat dirinya menjadi wartawan Domei, kantor berita propaganda Jepang, dan beberapa kali sowan ke Tebuireng. Beberapa bulan setelah Pertempuran 10 November 1945 itu, Bung Tomo menjadi penasehat Jenderal Sudirman bersama KH. A. Wahid Hasyim," tutur Rijal kepada Langit7.id.
Menurutnya, Bung Tomo adalah salah satu tokoh dengan suara kharismatik. Allah menganugerahkan lidah dan suara yang kharismatik kepada 3 orang terbaik: Haji Omar Said Tjokroaminoto, Bung Karno, dan Bung Tomo.
"Suaranya membius massa, intonasinya mempesona, dan menggerakkan," kata Gus Rijal.
Bung Tomo, dalam memoarnya menyebut bahwa, ia belajar pidato secara tidak langsung kepada Bung Karno di radio maupun pada saat Sukarno berpidato di alun-alun Surabaya, pada suatu waktu. Sedangkan Sang Proklamator berguru teknik orasi kepada mentor utama sekaligus mertuanya, Haji Omar Said Tjokroaminoto.
(jqf)