LANGIT7.ID, Jakarta - Riset Dewan Pers: Media Masih Dipercaya Publik untuk Mencari Kebenaran Informasi
Dewan Pers bersama Universitas Dr Moestopo Beragama melakukan penelitian mengenai "Kepercayaan Publik terhadap Media Arus Utama di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama atau media pers dibandingkan terhadap platform media sosial di masa pandemi Covid-19.
Ketua Komisi Penelitiaan, Pendataan, dan Ratifikasi Pers, Ahmad Djauhar, mengatakan media arus utama masih cukup dipercaya oleh publik dan menjadi media konfirmasi untuk informasi yang mereka dapatkan dari media baru atau media sosial.
Media siber atau media online dipercaya berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan, juga dikarenakan nama besar media.
Sementara kepercayaan terhadap media televisi/televisi streaming berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan dan narasumber berita.
Baca juga:
Pemulihan Ekonomi Nasional Lambat, APBN Diharapkan Bisa Lebih Tepat Sasaran"Media online/siber merupakan media yang paling tinggi digunakan untuk konfirmasi kebenaran informasi, diikuti TV/Streaming, dan surat kabar harian. Terkait dengan informasi mengenai Covid-19 sebagian besar responden dari 34 provinsi mempercayai informasi dari pakar di bidang yang relevan dengan masalah Covid-19," ujar Ahmad Djauhar, Jumat (20/8).
Penelitian yang dilakukan selama bulan Mei-Juli 2021 ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari penelitian yang sama pada tahun 2019. Dalam penelitian 2021, dilakukan pengkajian apakah pandemi Covid-19 mempengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap media arus utama.
survei dilakukan menggunakan instrumen kuesioner melalui Google Form dengan total sample sebesar 1.020 responden yang diperoleh secara systematic random sampling masing-amasing 30 sampel per-provinsi di 34 provinsi di Indonesia. Para responden yang dipilih berusia antara 13 hingga 56 tahun.
"Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, dan Cross-Tabulations. Analisis data tersebut untuk menggambarkan secara kuantitatif antar indikator. Analisis menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistical Program for Social Science)," kata tegasnya.
Meski demikian, Djauhar mengungkapkan jika media baru (Youtube, Whatsapp, Instagram, media siber) menjadi pilihan teratas bagi sebagian besar responden dalam mengkonsumsi media sehari-hari.
Sedangkan media yang diakses pertama kali oleh responden untuk mendapatkan informasi sehari-hari yaitu WhatsApp (22.5%), disusul media siber atau media online (22%), dan Instagram (18.7%) responden.
Media arus utama (pers) berupa media siber dipilih responden untuk mendapatkan informasi sehari-hari karena kecepatannya menyampaikan informasi (35.5%), karena kemudahan untuk diakses (25.6 %), dan karena informasinya terpercaya (17.1%).
Sedangkan Televisi/televisi streaming dipilih oleh 27.6% responden karena kemudahan akses informasi, 22,1% karena kecepatan informasi, dan 18,8% karena informasinya terpercaya.
Terkait dengan faktor data dan fakta yang disajikan, media pers lebih dipercaya. Apalagi jika media memiliki nama besar dan narasumber berita. Media siber dipercaya berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan (42.3%), nama besar media (26.2%) dan narasumber berita (25.5%).
Radio berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan (30%), narasumber berita (29.3%) dan nama besar media (19.6%). Televisi/televisi streaming berdasarkan factor data dan fakta yang disajikan (37.2%), narasumber berita (30%), dan 23% karena nama besar media. Suratkabar harian berdasar faktor data dan fakta yang disajikan (39,5%), narasumber berita (20,5%), dan nama besar media (26,6%).
(sof)