LANGIT7.ID, Yogyakarta - Ketua
Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC),
Din Syamsuddin, menilai, wasathiyah Islam atau jalan tengah Islam merupakan solusi terhadap kerusakan peradaban manusia.
Dia menjelaskan, kerusakan peradaban, baik pada tingkat global maupun nasional banyak negara, merupakan fakta yang sangat memprihatinkan. Dunia menghadapi krisis multidimensional, berupa krisis pangan, energi, dan lingkungan hidup.
“Serta berbagai bentuk ketidakadilan, tindak kekerasan, dan sikap fobia antar kelompok,” kata Din Syamsuddin dalam International Symposium yang diadakan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Ahad (3/12/2022).
Baca Juga: Populasi Muslim Meningkat, Din Syamsuddin Ungkap Geliat Dakwah di Barat
Menurut Din, kondisi
new normal (normal baru) saat ini belum terwujud usai pandemi Covid-19 melanda dunia sejak 2020 lalu. Itu karena umat manusia masih menghadapi momok berupa perubahan iklim dan pemanasan global yang mengerikan.
"(Ada pula) resesi ekonomi global yang berdampak sistemik pada bidang-bidang kehidupan lain,” ujar Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta itu.
Hal tersebut bisa terjadi karena sistem dunia berwatak sekuler-liberal yang sejatinya menampilkan bentuk ekstremitas. Dia menegaskan, label ekstrimisme kerap hanya dikaitkan dengan agama dan dilekatkan pada kelompok agama.
Baca Juga: Tips Kuliah di Negara Barat Tanpa Menjadi Kebarat-baratan
“Padahal, ideologi dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya berwatak ekstrim yg akhirnya menciptakan kerusakan akut,” tutur Din.
Maka itu, kata dia, wasathiyah Islam bisa menjadi solusi. Itu berkaitan dengan Chairman of Global Fulcrum of Wasathiyat Islam (Poros Dunia Wasathiyah Islam) yang baru diluncurkan pada 18 November 2022.
“Sistem Dunia dan bentuk-bentuk derivatifnya dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya harus ditarik ke titik tengah,” ungkap Din.
Baca Juga: World Peace Forum ke-8 Dorong Kerja Sama Antaragama Atasi Krisis Global
Namun, wasathiyah Islam bukan jalan moderasi yang mengandung konotasi kompromistik dan rekonsilialistik. Dalam hal ini berlaku pola hubungan antara pihak superior dan pihak inferior. Dalam Wawasan Islam wasathiyah ada dimensi toleransi (
tasamuh), keseimbangan (
tawazun), dan konsultasi (
syura), tapi ada juga dimensi keadilan (
i'tidal).
“Sering penekanan pada moderasi mengabaikan prinsip keadilan. Wawasan wasathiyah Islam lebih dari sekedar moderasi, bahkan mencerminkan keseimbangan menyeluruh. Menurutnya. Global Fulcrum of Wasatiyat Islam akan segera aktif mengarusutamakan wawasan tersebut untuk dunia, khususnya umat Islam sedunia,” pungkas Din.
(jqf)