Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tips Kuliah di Negara Barat Tanpa Menjadi Kebarat-baratan

Muhajirin Sabtu, 03 Desember 2022 - 17:55 WIB
Tips Kuliah di Negara Barat Tanpa Menjadi Kebarat-baratan
Mahasiswa Indonesia, Farhan Abdul Majiid (kiri bawah) bersama rekan-rekan kuliahnya di School of Transnational Governance European University Institute, Florence, Italia (Dok Pribadi)
LANGIT7.ID, Florence - Sebagai minoritas, muslim di Barat terus bergulat untuk mendapatkan tempat di tengah heterogenitas nilai yang cukup rumit. Fenomena masyarakat muslim di Barat kerap dikaitkan dengan masalah kegamangan masyarakat Barat terhadap muslim.

Masyarakat Barat yang mengklaim memiliki peradaban maju dan modern kadang menganggap masyarakat muslim dengan nilai Islamnya sebagai masyarakat konservatif. Ini menjadi tantangan tersendiri saat menjadi mahasiswa muslim di Barat.

Farhan Abdul Majiid, Mahasiswa asal Indonesia di School of Transnational Governance European University Institute, Florence, Italia menceritakan, tantangan utama seorang muslim yang belajar di Barat adalah adaptasi.

Baca Juga: Perjuangan 1 Persen Umat Islam di Florence Jaga Ibadah, Ukhuwah dan Toleransi

“Dalam adaptasi, ada hal-hal yang perlu dipertahankan dan ada yang perlu disesuaikan. Apa saja yg perlu diadaptasi? Tentu ada banyak. Mulai dari urusan sehari-hari seperti cuaca, makanan, dan lain-lain. Sampai urusan pemikiran. Apalagi, yang saya pelajari adalah ilmu sosial,” kata Farhan kepada Langit7.id, Sabtu (3/12/2022).

Namun, bukan berarti pelajar muslim tidak boleh kuliah di Barat. Farhan mencatat setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk menjaga akidah dan pemikiran Islam tetap lurus.

Pertama, mempersiapkan ilmu. Menurut Farhan, poin ini merupakan pondasi paling penting. Seorang muslim harus memahami halal haram. Termasuk apa saja yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan dalam agama.

“Apa yang dilarang, itu kita jadikan red line yang gak boleh dilanggar. Apa yang diperbolehkan, itu yang kita bisa sesuaikan dengan kondisi. Apa yang diharuskan, itu jangan sampai ditinggalkan. Ini sebenarnya tidak terlalu beda untuk tinggal di manapun, termasuk di Indonesia. Bedanya, ya di Eropa umat Muslim tidak sebanyak itu,” kata Farhan.

Baca Juga: Populasi Muslim Meningkat, Din Syamsuddin Ungkap Geliat Dakwah di Barat

Kedua, mempersiapkan teknis adaptasi. Adaptasi bisa dalam hal praktis. Misalnya, mencari masjid, tempat jual daging halal, restoran halal, atau mencari komunitas Muslim. Mencari komunitas muslim cukup penting, karena di wadah tersebut bisa saling support sebagai minoritas.

Kemudian, ada juga adaptasi dalam bentuk pemikiran. Caranya, seorang mahasiswa muslim juga mesti bisa berpikir terbuka dengan benar.

Berpikir terbuka tidak sama dengan menyetujui semua pikiran orang lain. Tetapi, bisa mendengarkan pendapat orang lain, memberi apresiasi dan kritik, lalu menimbangnya dengan pikiran sendiri.

"Pertimbangan itu, buat saya, tumpuannya ada dua: nilai-nilai agama dan nilai-nilai Indonesia yang saya punya. Dengan begitu, kita bisa lebih selektif, dalam artian, tidak terima sepenuhnya atau tolak sepenuhnya, tapi terima yang sesuai dan tolak yang tidak sesuai dgn nilai-nilai yang dipegang itu,” ujar Farhan.

Baca Juga: Mengapa Negara Barat Ngotot Promosikan LGBT di Piala Dunia Qatar?

Ketiga, tidak pernah berhenti belajar dan evaluasi diri. Era modern membuat belajar agama tidak susah. Kanal youtube menyediakan ribuan bahkan ratusan ribu video ceramah dari ustadz-ustadz ternama. Itu bisa menjadi rujukan untuk terus belajar.

“Buka YouTube bisa ketemu video Gus Baha atau Ustadz Adi Hidayat atau yang lainnya. Mungkin kualitas belajarnya enggak bisa sama dengan bertemu langsung dengan guru. Tapi, ini lebih baik daripada tidak sama sekali,” tutur Farhan.

Selain itu, perlu juga mengevaluasi secara kontinyu. Evaluasi diri sangat penting untuk melihat kekurangan diri, agar bisa memperbaiki kualitas diri.

“Apa yang sudah baik, apa yang harus diperbaiki, apa yang masih kadang baik kadang tidak. Insya Allah, secara keseluruhan, kita akan jadi lebih baik dari diri kita yang kemarin,” ungkap Farhan.

Baca Juga: Mengenal Negeri Maroko, Gerbang Masuknya Islam ke Eropa


(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)