alexametrics
Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 07 Februari 2023
home edukasi & pesantren detail berita

Mengapa Negara Barat Ngotot Promosikan LGBT di Piala Dunia Qatar?

Muhajirin Senin, 28 November 2022 - 08:37 WIB
Mengapa Negara Barat Ngotot Promosikan LGBT di Piala Dunia Qatar?
Aksi tutup mulut Timnas Jerman sebelum pertandingan melawan Jepang pada Rabu (23/11/2022) sebagai bentuk protes karena merasa dibungkam tak boleh promosikan LGBT (foto: Alamy)
LANGIT7.ID, Jakarta - Piala Dunia 2022 di Qatar diwarnai kritik dari negara-negara Barat pro Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Qatar yang merupakan negara muslim, sebagai tuan rumah melarang adanya simbol-simbol LGBT untuk menghargai agama dan budaya setempat.

Sejumlah kontestan Piala Dunia 2022 seperti Inggris, Jerman, Belgia, Wales, Denmark, dan Swiss memberikan sinyal akan menggunakan ban kapten One Love bercorak pelangi yang merupakan simbol LGBT. Namun, FIFA merespons itu dengan mengancam hukuman kartu kuning dan denda.

Mengapa Negara Barat Ngotot Promosikan LGBT di Piala Dunia Qatar?

Meski dilarang, sejumlah suporter hingga pejabat negara nekat menggunakan simbol pelangi di luar lapangan. Tak mau menyerah, negara-negara Barat pun melobi FIFA agar diizinkan menggunakan ban kapten pelangi. Di lapangan, timnas Jerman sempat melakukan aksi tutup mulut sebelum pertandingan sebagai bentuk protes merasa hak mempromosikan LGBT dibungkam.

Bahkan beberapa negara seperti Inggris, Denmark, dan Jerman mengancam akan meninggalkan FIFA karena melarang kampanye LGBT pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Baca Juga: Hugo Lloris Tolak Kenakan Ban Kapten Pelangi untuk Hormati Qatar Soal LGBT

Lalu, kenapa negara-negara Barat ngotot mempromosikan LGBT dalam turnamen akbar Piala Dunia di Qatar?

Mahasiswa Program Doktoral Universitas Darussalam Gontor, Yongki Sutoyo, menjelaskan, Barat menilai LGBT sebagai nilai-nilai universal.

“Karena nilai-nilai itu dianggap universal seperti HAM, maka wajar jika nilai-nilai universal itu harus disebarkan ke semua tempat, termasuk di dunia Islam,” kata Yongki kepada Langit7.id, Senin (28/11/2022).

Orang Barat beranggapan nilai-nilai itu seharusnya dimiliki setiap orang beradab dan orang berpikiran terbuka. Artinya, orang yang tidak menerima ideologi itu diklaim masyarakat yang tidak berperadaban dan masyarakat yang berpikiran sempit.

Hal tersebut yang membuat Barat memiliki gairah dan ambisi untuk mengampanyekan LGBT dalam gelaran Piala Dunia 2022. Menurut Barat, LGBT merupakan salah satu manifestasi dari Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satu inti HAM menurut Barat adalah sexual right, yang merupakan unsur dari feminisme.

Baca Juga: Isu LGBT di Piala Dunia 2022, Xhaka Pilih Hormati Aturan

Sexual right
disejajarkan dengan human right atau hak asasi manusia (HAM), yakni hak untuk melaksanakan orientasi seksual masing-masing. Barat mendukung orientasi seksual penyuka sesama jenis. Itu dianggap lumrah dalam peradaban mereka. Mereka mengecam orang yang melarang dan menghalangi sexual right itu.

“Karena LGBT itu dianggap nilai-nilai yang universal, selayaknya dimiliki semua orang, maka mereka mengampanyekan LGBT itu,” kata Yongki.

Sejarah Barat Menganggap LGBT sebagai Kebenaran Mutlak

Yongki menjelaskan, jika dilacak dari perspektif sejarah, LGBT merupakan rangkaian dari pemikiran lesbianisme. Lesbianisme merupakan salah satu unsur penting dalam feminisme ala Barat. Lesbianisme muncul secara diskursus mulai abad ke-20, ketika terbentuknya NOW (National Organization for Women) di Amerika Serikat.

Secara filosofis, pemikiran lesbianisme bisa dilacak dari karya Simone de Beauvoir dalam karyanya berjudul The Second Sex. Dalam buku itu ada satu bab yang berjudul The Lesbian. Beauvoir menjelaskan dengan panjang lebar tentang lesbian.

Baca Juga: Laga Wales vs Iran Bakal Diwarnai Penggunaan Atribut LGBT

“Singkatnya, Simone ini salah satu feminis eksistensialis, karena dia adalah partner hidup dengan Sartre. Keduanya hidup serumah tapi tidak memiliki hubungan pernikahan. Maka, Simone muridnya Sartre, dia sebagai seorang pemikir memang alirannya eksistensialis,” kata Yongki.

Dalam pemikiran eksistensialisme, eksistensi manusia itu penting dan menjadi hal utama atau paling esensi. Bagi mereka, identitas laki-laki dan perempuan bukan hal utama atau esensi, tapi yang diutamakan adalah kewujudan eksistensi diri.

Pemikiran itu muncul tidak terlepas dari sejarah perempuan di Barat. Peradaban Barat zaman dahulu menempatkan perempuan sebagai kelas dua atau seks kelas dua. Dalam segala hal dinomorduakan atau disubordinasi.

Beauvoir melalui eksistensialisme mengatakan, perempuan sebetulnya setara dengan laki-laki. Dalam konteks eksistensi, perempuan adalah entitas independen yang sebetulnya tidak butuh laki-laki secara keseluruhan, sebagaimana doktrin hetero yang menyebut laki-laki butuh perempuan dan sebaliknya.

“Bahkan, bisa saya sampaikan, Beauvoir ingin bilang bahwa puncak eksistensi bagi seorang perempuan adalah dengan lesbi. Di mana dia secara personal tidak butuh laki-laki lagi. Di sanalah Namanya kesetaraan atau superioritas perempuan terlihat,” ujar Yongki.

Baca Juga: Parlemen Rusia Setujui RUU Larangan Promosi LGBT, Melanggar Denda Rp1,2 M

Dari pemikiran lesbianisme tersebut berkembang satu pemikiran bahwa setiap orang berhak untuk menentukan hasrat seksual. Ini berkaitan dengan seksual right kalau berbicara HAM. Itu karena lesbianisme berpikir punya hak menyalurkan hasrat seksual ke siapa saja, termasuk ke sesama jenis.

Lesbianisme itu simbol perlawanan radikal dari sistem hetero yang sangat hegemonik di dalam peradaban Barat. Lesbian ditempatkan dalam posisi tertinggi dalam hirarki perempuan. Lesbian bagi Barat adalah terlepas dari hegemoni hetero.

“Karena hetero bagi mereka adalah simbol patriarki, di mana perempuan dipaksa untuk tidak bisa keluar dari paradigma bahwa bisa tidak butuh secara seksual kepada laki-laki. Hanya lesbianisme yang bisa menjawab itu,” ujar Yongki.

Pemikiran tersebut terus berkembang. Mereka menyebarkan opini bahwa orientasi seksual tidak hanya satu atau tidak hetero. Ada lesbian dan gay. Itu berkembang lagi menjadi LGBT bahkan ke tahap LGBTQ.

Baca Juga: Waspada, Prancis Akan Kirim Duta LGBT ke Seluruh Dunia

“Jadi, kalau kita lihat dari perspektif Beauvoir, berarti LGBT itu adalah salah satu bentuk atau puncak eksistensi manusia untuk melawan hegemoni patriarki,” kata Yongki.

LGBT ditempatkan sebagai satu simbol kebebasan manusia, artinya manusia tidak boleh dikekang oleh apapun seperti norma agama, mitos, hingga kultur. Maka mereka menjadikan LGBT sebagai sebuah kebenaran, karena secara historis seperti itu.

“Dari hetero ke lesbi, ke gay, kemudian makin berkembang hingga LGBTQ,” pungkas Yongki.

Baca Juga: FIFA Larang Suporter Inggris Kenakan Kostum ala Tentara Salib


(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
right-1 (Desktop - langit7.id)
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 07 Februari 2023
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
12:10
Ashar
15:27
Maghrib
18:20
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan