LANGIT7.ID, Jakarta - Berusia dua abad lebih, Masjid Agung Al-Baitul Qadim merupakan simbol pemersatu umat beragama di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT). Masjid ini juga merupakan saksi bisu penyebaran agama Islam.
Hal ini lantaran masjid dibangun gotong royong oleh masyarakat setempat dengan berbagai latar belakang agama. Pembangunan masjid diinisiasi Sya'ban bin Sanga pada tahun 1806.
Melansir Dunia Masjid, rumah ibadah ini diresmikan pada 1812 sekaligus merupakan pusat semua kegiatan agama Islam di Kupang ketika itu. Syahban bin Sanga adalah orang muslim pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Timor.
Baca Juga: Masjid di Inggris Ramai Dikunjungi Siswa untuk Belajar IslamKala itu masyarakat Kesultanan Mananga dipindahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dari Pulau Solor ke Pulau Timor. Dari sinilah awal mula cikal bakal pendirian Masjid Agung Al-Baitul Qadim dan penyebaran Islam di Kupang.
Rumah ibadah ini juga dikenal sebagai Masjid Air Mata karena terletak Kelurahan Air Mata. Selain itu ada makna lainnya dari penamaan tersebut, yakni simbol perlawanan warga Airmata terhadap penjajahan Portugis, Belanda, dan Jepang.
Berdasarkan cerita sejarah, para penjajah beberapa kali berusaha menghancurkan masjid. Namun usaha mereka sia-sia lantaran usaha mereka selalu gagal di tengah jalan sebelum menyentuh fisik bangunan masjid.
Masjid Besar Al Baitul Qadim menjadi tempat wisata religi yang dibangun dengan ukuran 10x10 meter persegi. Dari segi arsitektur memadukan dua budaya yakni Jawa dan Tiongkok.
Adapun pemugaran dilakukan pada 1984, lantaran bangunan masjid sudah termakan usia hingga dikhawatirkan roboh. Renovasi total ini juga atas persetujuan wagra setempat, yang mana bertepatan dengan perkembangan Islam yang pesat di NTT.
Baca Juga: Berasa di India, Masjid An Nur Suguhkan Pemandangan Taj Mahal(zhd)