LANGIT7.ID, Jakarta - Kemuliaan dan kebermanfaatan ilmu tidak serta merta didapatkan begitu saja, ada persyaratan dan adab yang harus dipenuhi oleh penuntut ilmu. Banyak para ulama yang menaruh perhatian terhadap semangat
thalabul ilmi serta adab-adab dalam menuntut ilmu.
Di antara ulama tersebut adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam Ghazali menjelaskan tentang adab-adab belajar dengan sangat cermat dan tepat yang diringkas kembali oleh Ketua MUI Pusat KH Jeje Zaenudin. Berikut pesan dan adab-adab dari Imam Ghazali untuk penuntut ilmu.
Baca Juga: Tegakkan Keadilan dan Jalankan Perintah Agama, Alasan Pejuang Lawan PenjajahPertama, membersihkan hati dari akhlak tercela dan sifat-sifat yang keji. Hal ini sangat penting, sebab menuntut ilmu itu adalah ibadahnya hati dan salatnya jiwa kepada Allah Taala. Apabila salat tidak sah karena tidak bersuci dari hadas ataupun najis lahir, maka ibadah batin juga tidak sah apabila tidak diawali dengan membersihkan hati dari hadas dan najis yang berupa akhlak tercela.
Menurut Ibnu Mas’ud, ilmu adalah cahaya terang yang Allah letakan dalam qalbu manusia. Ilmu disebut cahaya sebab hakikat ilmu itu menerangi akal pikiran agar jelas nampak mana jalan kebenaran dan mana jalan kesesatan, mana yang hak dan mana yang batil, serta menunjukan apa akibat kesesatan dan apa akibat ketaatan.
Karena itu, dengan ilmu seorang alim jadi sangat takut melakukan maksiat dan dosa kepada Rabb-Nya karena mengetahui apa akibatnya. Oleh sebab itu pula diantara hakikat ilmu adalah rasa takut yang sungguh-sungguh yang mendorong seorang berilmu semakin khusyu’ kepada Tuhannya. Karena itulah Al-Quran menyatakan, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ahli ilmu".
Kedua, para penuntut ilmu harus fokus kepada ilmu yang sedang dipelajarinya. Jangan tergoda oleh kesibukan-kesibukan duniawi yang lain, baik urusan keluarga ataupun pekerjaan yang mengakibatkan ia tidak konsentrasi dan tidak serius mendalami ilmu. Allah Ta’ala tidak menjadikan dua hati dalam dada manusia.
Baca Juga: Melacak Akar Kebangsaan IndonesiaJika seseorang tersedot perhatian dan rasa cintanya pada sesuatu, maka yang lain mesti jadi nomer dua. Ada pepatah mengatakan, “ilmu tidak akan memberikan kepadamu walau sebagian sehingga kamu memberikan seluruh dirimu baginya”. Artinya bahwa ilmu itu pencemburu, ia tidak mahu jika para penuntutnya menduakan hati dan perhatianya kepada yang lainnya.
Ketiga, para penuntut ilmu tidak boleh takabur atau tinggi hati atas satu disiplin ilmu yang dipelajarinya dengan menganggap enteng atau menyepelekan kedudukannya dan kedudukan para pengajarnya. Seorang penuntut ilmu harus rendah hati terhadap imu yang dipelajarinya dan manut kepada guru yang mengajarinya, seperti seorang sakit dihadapan seorang dokter spesialis yang sedang mengobatinya.
Keempat, menghindari perdebatan dan perselisihan dalam mempelajari suatu disiplin imu. Setiap cabang ilmu ada masalah-masalah yang disepakati dan ada masalah yang diperselishkan, juga ada aliran-aliran pemikiran, mazhab, dan teori-teori yang berbeda.
Maka, seorang pemula dalam menuntut ilmu harus menghindari perselisihan dan perbedaan-perbedaan mazhab tersebut sampai ia benar-benar memahami dulu pokok-pokok atau prinsip-prinsip pada disiplin ilmu tersebut. Sehingga ia memahami mana akar dan batang yang sebenarnya dari ilmu tersebut dan mana cabang serta ranting-rantingnya, serta apa penyebab adanya perbedaan-perbedaan mazhab atau aliran pemikiran tersebut.
Baca Juga: Ketua MIUMI: Indonesia adalah Negara Agama sebab Pancasila Bersumber dari IslamIlmu itu bertingkat-tingkat dari segala aspeknya. Materinya, metodenya, target maupun tujuannya. Sebagaimana bertingkat kemampuan pengajar dan pelajar dalam pencapaiannya. Jika diukur dengan tingkat kesulitan dan kemudahan pertanyaan, maka ilmu itu berjenjang dari pertanyaan: apa?, bagaimana?, dan mengapa? Apa adalah pertanyaan tentang suatu definisi atau batasan sesuatu yang berfungsi menyamakan persepsi tentang hakikat sesuatu yang ingin diketahui dan dipelajari.
Kelima, penuntut ilmu harus mengetahui tujuan dan target berbagai macam cabang ilmu, kemudian merencanakan untuk mengkaji seluruh cabang ilmu secara mendalam dan menguasainya jika waktu dan umurnya mencukupinya. Jika tidak memungkinkan semua cabang ilmu dia pelajari, maka ia wajib memilih dan memprioritaskan mempelajari cabang ilmu yang paling penting untuk ia kuasai dan tetap mempelajari prinsip-prinsip dasar dari semua cabang ilmu yang terkait dengan disiplin ilmu yang ia tekuni.
Jika ia hanya menguasai satu atau dua cabang ilmu tetapi jahil dari ilmu-ilmu yang lain, cenderung menjadi sombong dan merasa paling pinter dan bener sendiri. Itulah sebabnya ada ungkapan, “an nasu a’ada’a ma jahilu” artinya bahwa manusia itu cenderung memusuhi apa yang tidak dikenalinya. Seperti seseorang yang pakar tasawuf tidak pernah belajar ilmu fikih atau ushul fikih cenderung menyepelekan bahkan mungkin membenci fikih dan para fukoha.
Begitu pula sebaliknya, orang yang pakar fikih tidak pernah belajar ilmu tashawuf cenderung memusuhi dan membabi buta menyesatkan ilmu tashawwuf. Demikian seterusnya.
Baca Juga: Kangen Zainudin MZ: Makhluk Selalu Siap Taat kepada AllahDalam pandangan Islam, berbagai macam ilmu itu bertingkat-tingkat; ada ilmu yang laksana jalan utama yang terbentang bagi manusia menuju Allah SWT. ada ilmu-ilmu yang menjadi pembantu dan memperkuat ilmu yang menjadi jalan kepada Allah tadi.
Karena itu, ilmu juga ada yang fardu ain untuk dipelajarinya dan ada ilmu yang mempelajarinya sebagai fardu kifayah. Maka seseorang tidak boleh mendahulukan mendalami ilmu fardu kifayah dengan meninggalkan ilmu yang fardu ain.
(asf)