LANGIT7.ID, Jakarta - Indonesia merupakan tempat bertemunya berbagai lempeng tektonik hingga sabuk vulkanik yang bisa mengakibatkan gempa hingga gunung meletus. Iklim tropis Indonesia juga bisa memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir. Maka
mitigasi bencana menjadi sebuah kemestian agar risiko bencana bisa dikurangi.
Manajer Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Ahmad Lukman, mengatakan, lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa sudah aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait bencana alam. Mitigasi bencana tersebut penting dilakukan untuk meminimalisir korban saat bencana terjadi.
“Dompet Dhuafa hadir dalam sosialisasi dan mitigasinya ke masyarakat, terutama di rawan bencana. Di daerah rawan bencana kita melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sesuai dengan ancaman bahaya seperti apa,” kata Lukman saat berbincang dengan
Langit7.id, Jumat (16/12/2022).
Baca Juga: Kelola Alam dengan Tauhid, Langkah Mitigasi Bencana Islami
Setelah sosialisasi, para relawan juga melakukan simulasi kebencanaan. Upaya itu dilakukan dengan harapan masyarakat selalu siap-siaga terhadap ancaman bencana alam yang bisa kapan saja terjadi.
Sosialisasi dan mitigasi merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, mengurangi risiko bencana, meminimalisir korban terdampak bencana, hingga mengurangi jumlah korban.
“Kita juga mensosialisasi terkait rumah aman bencana alam seperti apa. Misalnya, wilayah rawan bencana sebisa mungkin masyarakat untuk tidak menempati daerah rawan,” ujar Lukman.
Masyarakat juga diberikan edukasi terkait arsitektur rumah yang tahan gempa. Hal ini bisa mencontoh rumah-rumah adat yang ada di Indonesia. Rumah terbuat dari kayu dan didesain sesimetris mungkin, sehingga tidak roboh saat terjadi bencana alam, seperti gempa bumi.
Baca Juga: Mbah Rono: Bangunan yang Membunuh, Bukan Gempa Bumi
“Ketika membangun hunian pun harus mengetahui struktur bangunan yang aman bencana, minimal slop, dan penguatan struktur bangunan. Sehingga ketika terjadi bencana pun, bangunan itu tidak mematikan,” ujar Lukman.
Tahapan saat Terjadi BencanaMenurut Lukman, ada beberapa tahapan yang dilakukan relawan kemanusiaan saat terjadi gempa alam. Tahapan pertama adalah fase darurat. Pada fase ini, relawan dari Dompet Dhuafa sudah ada di lokasi kejadian 1x-24 jam pascakejadian.
Hal utama yang dilakukan adalah mencari korban bencana, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Korban meninggal akan dikuburkan secara layak. Sementara, penyintas akan dicarikan lokasi pengungsian yang aman dan nyaman.
“Respons darurat kita ada pencarian korban yang hidup dan meninggal, kemudian mengevakuasi masyarakat, lalu memberikan bantuan darurat,” kata Lukman.
Baca Juga: Pakar Gempa: Upaya Mitigasi Harus Dimulai dari Sekolah
Fase kedua adalah fase
recovery (pemulihan). Ada dua bentuk dalam tahapan ini yakni penanganan fisik dan mental korban. Recovery fisik biasa dilakukan dengan membangunkan tenda pengungsian darurat, MCK darurat, hingga mushola darurat.
Dompet Dhuafa juga menurunkan psikolog untuk memulihkan mental korban. Ini penting dilakukan untuk menghilangkan trauma para korban.
"
Recovery mental pun kita selalu hadir dengan menurunkan tim psikolog untuk penanganan mental. Rehabilitasi konstruksi juga, pertama pada infrastruktur yang rusak seperti membangun masjid, sekolah, dan sebagainya,” ungkap Lukman.
(jqf)