LANGIT7.ID, Jakarta - Tahun 2022 sederet
bencana alam kerap terjadi di Indonesia. Mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi hingga banjir. Berbagai upaya tanggap bencana telah dilakukan. Manajer Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Ahmad Lukman, menuturkan, lembaga kemanusiaan memiliki peran penting dalam menangani korban bencana alam di Indonesia.
Dalam fase darurat, relawan kemanusiaan biasanya melakukan evakuasi terhadap korban, baik korban meninggal maupun yang masih hidup. Para penyintas mendapat perhatian lebih banyak dalam penanganan. Mulai dari bantuan logistik darurat pascabencana.
Selain itu, lembaga kemanusiaan harus memiliki program-program jangka panjang untuk para korban. Lukman mencontohkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Kurangi Risiko Bencana, Ini Upaya Lembaga Kemanusiaan Lakukan Mitigasi
Pemberdayaan ini kita tidak bisa sendiri, kita melibatkan masyarakat. Terutama masyarakat yang membutuhkan. Bekerjasama komunitas setempat. Jadi pemberdayaan itu melibat masyarakat langsung,” kata Lukman kepada
Langit7.id, Jumat (16/12/2022).
Pemberdayaan ekonomi ini memanfaatkan sumber daya alam tempat para penyintas berada. Lukman mencontohkan masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang. Korban diberikan fasilitas untuk membangun kembali tempat usaha.
“Apa yang dibutuhkan misalnya ekonomi, dia butuh bisa bikin warung, maka buatkan warung itu,” kata Lukman.
Pemberdayaan ekonomi ini disertai edukasi. Masyarakat yang mendapat bantuan dibimbing untuk mengembangkan usaha secara kolektif. Artinya, hasil dari usaha tersebut bisa menebarkan manfaat ke masyarakat lain.
Baca Juga: Kemenag Wacanakan Kurikulum Mitigasi Bencana di Daerah Terdampak
“Tapi sistemnya kita bentuk, jangan sampai kebutuhan mereka membuat warung itu untuk makan dia sendiri. Makanya kita ada pemberdayaan diikuti sistem berbagi. Kita edukasi, bahwa penggunaan secara ekonomi harus diputar terus hasilnya sehingga manfaatnya lebih luas,” ungkap Lukman.
Di sisi lain, ada upaya integrasi dengan program pemberdayaan ekonomi yang ada di seluruh Indonesia. Lukman mencontohkan korban gempa bumi Cianjur, Jawa Barat. Korban diberi bantuan membangun tempat usaha. Lalu, Dompet Dhuafa mengambil barang dari UMKM binaan Dompet Dhuafa di daerah lain sebagai pemasok barang.
“Kita juga perlu mitra, misal yang menyuplai barang, misalnya pemberdayaan UMKM kecil untuk menyuplai barang, sehingga perekonomian tidak hanya bergerak di satu tempat, tapi berefek pada daerah lain,” tutur Lukman.
Selain pemberdayaan ekonomi, lembaga kemanusiaan juga bergerak di bidang pendidikan hingga budaya. Di bidang pendidikan misalnya. Lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa memberikan beasiswa kepada anak-anak penyintas gempa.
Baca Juga: Pesantren Masyarakat Merapi-Merbabu, Didirikan Relawan untuk Dakwah Jangka Panjang
Ada pula pembangunan sekolah darurat, hingga sekolah permanen jika kondisi dan situasi sudah normal. Itu dilakukan agar pendidikan anak-anak penyintas gempa tetap berjalan.
“Sekolah darurat itu ketika bencana dibutuhkan, tapi setelah kondisi darurat, kondisi normal maka kita bangun sekolah permanen. Kita sudah buat di daerah-daerah terdampak bencana,” ujar Lukman.
Memperkuat Kolaborasi Lembaga Kemanusiaan Indonesia terkenal sebagai negara para dermawan. Lembaga kemanusiaan pun menjamur di Indonesia. Menurut Lukman, antara lembaga kemanusiaan perlu berkolaborasi di lapangan untuk menangani pemulihan korban bencana alam.
“Kolaborasi yang kita bentuk adalah kerjasama, kerjasama akan membantu menunjuk lokasinya langsung, dan kita sama-sama tuh dengan mitra ataupun rekanan, kita ajak untuk memberikan bantuan-bantuan sama-sama,” kata Lukman.
(jqf)