LANGIT7.ID - , Jakarta - Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, memiliki cita-cita menjadi
pusat produsen halal terbesar di dunia. Salah satu cara untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah melalui industri fesyen muslim Indonesia.
Agar industri fesyen muslim Indonesia berkembang dibutuhkan ekosistem yang baik dan berkelanjutan. Wakil Presiden RI,
KH Ma'ruf Amin mengatakan dalam membangun ekosisten fesyen muslim Indonesia diperlukan roadmap berkelanjutan.
Baca juga: IAI Tazkia Roadshow Dorong Pengembangan SDM dan Industri Halal “Saya minta Menteri Perdagangan dan KADIN ini untuk mengoordinasikan, merangkum semua unsur untuk membangun ekosistem fesyen muslim Indonesia ini, termasuk peta jalannya (roadmap) ke depan secara
sustainable (berkelanjutan),” tutur Ma'ruf Amin pada Maret lalu, dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara, Jumat (16/12/2022).
Mengutip ISEF, data The Business Research Company menyebutkan sektor industri fashion menyumbang 1,2 milyar ton gas karbon, dan juga bertanggung jawab atas 35% dari jumlah total limbah
microplastic dunia.
Karena itu, gerakan
sustainable fashion atau
fesyen berkelanjutan muncul sebagai upaya mengatasi dampak buruk industri ini terhadap lingkungan.
Namun, perlu diketahui konsep fesyen berkelanjutan berbeda dengan eco-fashion yang fokus pada pesan ramah lingkungan.
Sustainable fashion jauh lebih holistik dengan mengaitkan imbas dari proses produksi, distribusi, hingga konsumsi fesyen terhadap bumi dan seisinya.
Misinya pun terarah pada upaya mendorong industri mode tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membawa nilai lebih berupa kesejahteraan bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Baca juga: Industri Halal Mampu Dorong Laju Pemulihan Ekonomi NasionalKetua Indonesia Fashion Chamber,
Ali Charisma, mengatakan
sustainable fashion berfokus pada tiga pilar yaitu People, Planet, dan Profit.
"People merujuk pada praktik bisnis yang adil, baik bagi para pekerja dan pelanggan," terangnya.
Artinya kesejahteraan bersama lewat perdagangan yang adil atau fair trade menjadi kunci dari praktik bisnis sustanaible fashion, yang berperan dalam memberikan kesetaraan peluang buruh dan pekerja di industrinya.
"Kemudian pilar kedua yaitu Planet yang mengarah pada bagaimana bisnis fashion ini harus memperhatikan kondisi lingkungan. Selain berupaya agar proses produksinya lebih ramah lingkungan dengan penggunaan serat alami, pewarna natural, dan lain sebagainya, sustainable fashion juga melibatkan konsumen dengan mengajaknya melakukan reuse dan recycling terhadap produk-produk mode yang dimilikinya," lanjut Ali Charisma.
Selanjutnya, Ali menjelaskan pilar terakhir "Profit", di mana sebagai sebuah bisnis, sustainable fashion tetap bertujuan mencari keuntungan. Hanya saja, keuntungan yang diperoleh tidak meninggalkan prinsip etis terhadap lingkungan dan sosial ekonomi.
Baca juga: Melalui Fesyen Berkelanjutan, KaIND Berdayakan Petani dan Anak MudaBila dikaitkan dengan syariat Islam, konsep bisnis
sustainable fashion memiliki kemiripan. Kegiatan ekonomi Islam bertujuan mencapai keuntungan namun juga membawa manfaat dan kesejahteraan bersama.
Dekan Universitas Al Azhar Indonesia Yusuf Hidayat mengatakan konsep
sustainability sangat cocok dengan konsep Islam sebab terdapat banyak manfaat dan menghindari kerusakan.
"Itu sangat cocok. Jadi muamalah dilakukan dengan memelihara keseimbangan," ujar Yusuf kepada Langit7, Senin (19/12/2022).
Dia melanjutkan, terdapat beberapa prinsip dalam bisnis syariah, di mana dalam aspek muamalah dan ekonomi harus mempertimbangkan maslahah dan bermanfaat bagi banyak orang.
"Kalau kita pahami Islam itu mengedepankan manfaat yang lebih banyak. Allah menciptakan alam semesta itu untuk manusia tetapi manusia dilarang untuk berlebih-lebihan sebab akan merusak alam itu," katanya.
Artinya, lanjut Yusuf, dalam memanfaatkan sumber daya alam harus dipertimbangkan jangka panjang atau sustainabilitynya diperhatikan.
Baca juga: Penyuluh Agama Berperan Sentral dalam Pembangunan Berkelanjutan"Justru bagaimana kita memelihara terus-menerus, memanfaatkan secukupnya, dan menjaga supaya itu bisa dimanfaatkan oleh generasi setelahnya," imbuh Yusuf.
(est)