LANGIT.ID, Jakarta - Ancaman
resesi 2023 menambah panjang penderitaan perekonomian global. Pasalnya, dunia baru saja memasuki tahap pemulihan ekonomi usai pandemi Covid-19.
Wakil Rektor
Universitas Paramadina, Handi Rizsa mengungkapkan, perekonomian di tahun 2023 akan tidak mudah dihadapi secara global, termasuk Indonesia. Apalagi pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama dua tahun belakangan menyebabkan perekonomian nyaris lumpuh.
"Selain tragedi kemanusiaan terbesar, ini juga menjadi tragedi
ekonomi terbesar. Jadi ini satu peristiwa global yang dirasakan seluruh umat manusia," ungkapnya dalam Diskusi Publik: Evaluasi Akhir Tahun Bidang Ekonomi dan Keuangan Negara yang diikuti
Langit7, Selasa, (20/12/2022).
Sebetulnya, lanjut dia, ancaman inflasi sudah terlihat saat kasus Covid-19 mulai melandai pada 2021. Disaat perekonomian pulih ditandai dengan demand meningkat, kemudian menyebabkan tanda terjadinya inflasi.
Baca Juga: Hadapi Resesi 2023 dengan Investasi, Bermodal Internet dan Gadget"Karena demand meningkat tapi kemampuan produsen atau negara untuk mensupply permintaan tidak mencukupi. Sehingga ini menjadi ancaman inflasi awal," jelasnya.
Selanjutnya, ketika perekonomian mulai bergerak, dunia justru kembali dihadapi dengan ancaman konflik Rusia-Ukraina. Konflik geopolitik ini menyebabkan angka inflasi yang tinggi di akhir 2021, kemudian secara berturut-turut mengalami lonjakan tinggi di awal 2022.
"Adanya pergeseran dari pandemi Covid-19 menjadi bentuk konflik geopolitik ini menyebabkan lonjakan inflasi global, krisis utang global, suku bunga tinggi, dan lainnya," ungkap dia.
Bahkan disebutkan setidaknya ada 60 negara yang mengalami krisis bayar utang. Kejadian akhirnya adalah ancaman stagflasi yang mungkin berlanjut hingga 2023.
"Stagflasi ini akibat inflasi dan suku bunga tinggi, tapi pertumbuhan ekonomi melambat. Sehingga hambatannya cukup terasa di perekonomian nasional," katanya.
(bal)