LANGIT7.ID, - Jakarta - Sekertaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah,
Abdul Mu’ti mengatakan pemikiran yang selalu mengaitkan antara
terorisme dengan agama dalam beberapa hal harus dikoreksi, sebab akarnya bisa saja pada politik.
"Kalau kita kemudian selalu mengkaitkan terorisme dengan agama dalam beberapa hal itu sudah ada banyak yang harus kita koreksi. Dalam konteks Indonesia berbagai aksi itu seperti ada skenario, saya tidak tahu apakah dugaan saya ini keliru atau benar karena selalu setelah ada aksi kemudian nanti ditemukan berbagai hal yang berkaitan dengan buku jihad atau apalah yang sifatnya itu legitimasi teologis," ujar Mu'ti dalam webinar bertajuk
Radikalisme: Adakah Akarnya di Indonesia? dikutip Sabtu (24/12/2022).
Baca juga: Waspadai Isu Radikalisme di Medsos, Ismail Fahmi: Sebarkan Narasi Islam yang RamahMenurut pengamatannya, kasus-kasus terorisme terjadi biasanya ketika terdapat isu besar sehingga terkesan ingin mengalihkan isu.
"Dalam catatan saya itu menjadi begitu klise dan seperti sudah bisa ditebak. Sebelumnya kan juga ada beberapa kalangan yang mengatakan lucu ya ada seorang ibu yang kemudian tiba-tiba menodongkan pistol di pengawal kantor kepresidenan, itu kan lucu juga dan ketika dilumpuhkan ibu itu seperti pasrah saja. Nah ini kan sesuatu yang bagi publik itu tidak lagi dianggap sebagai peristiwa yang extra ordinary," katanya.
Karenanya, ketika terjadi peristiwa di Polsek Astana Anyar, Bandung, publik melihatnya seperti menonton siaran pertandingan atau berita tertentu, yang tidak memiliki perhatian dan kecemasan serius.
Terkait ini, pria kelahiran 2 September 1968 itu berpendapat jika terjadi terus-menerus, maka masyarakat akan mengalami apatisme bahkan hingga
bystander apathy, yakni fenomena psikologi sosial ketika seseorang membutuhkan pertolongan tapi orang di sekitarnya tidak ada yang membantu.
Baca juga: Jusuf Kalla: Komunitas Masjid Asean Bisa Jadi Wadah Atasi Radikalisme"Ini tidak boleh terjadi menurut saya, karena kita tetap harus membangun sebuah kepekaan kolektif di dalam masyarakat bahwa radikalisme dan terorisme dalam berbagai bentuknya masih merupakan ancaman keamanan yang sangat serius," tutut dia.
"Tetapi cara kita melihat dan cara kita menangani menurut saya memang harus berubah. Pendekatan-pendekatan yang selama ini dilakukan. Diperlukan pendekatan-pendekatan baru yang lebih partisipatif melibatkan berbagai kalangan dan pendekatan yang tidak melulu pendekatan militer tetapi yang bersifat kultural bahkan mungkin juga melibatkan generasi milenial perlu dipikirkan," katanya.
Mu'ti kemudian menyimpulkan, pandangan dan mindset tentang terorisme harus berubah dan harus lebih melihat masalah tersebut secara mendalam dari banyak aspek, termasuk dari penanganan dan pendekatan yang harus berubah menjadi pendekatan baru yang ia sebut sebagai semesta partisipatif.
Baca juga: BNPT Ungkap Strategi Pencegahan Radikalisme di Indonesia(est)