LANGIT7.ID, Jakarta - Mendidik anak agar tumbuh dengan perilaku baik dan selalu menuruti kata
orang tua tentu memiliki tantangan. Terlebih ketika anak sudah terlanjur mempunyai sifat membangkang maka tantangannya akan jauh lebih sulit.
Lantas, bagaimana mendidik anak ketika sudah terlanjur membangkang? Penulis sekaligus Konsultan Pernikahan, Kang Canun Kamil mengatakan, cara mendidik anak yang sudah terlanjur membangkang dengan membangun bonding atau ikatan kembali.
"Nge
date sama anak. Miliki jadwal nge
date sama anak-anak Anda, nggak usah ajak-ajak suami. Jadi, suami juga perlu memiliki waktu nge
date sama anak, entah itu nonton bareng, main game bareng dan lainnya," ujar Kang Canun dalam acara parenting virtual yang diikuti
Langit7, Sabtu (24/12/2022).
Baca Juga: Cara Didik Anak Cinta Al-Qur'an Berdasarkan UsiaMenurut Kang Canun, hal-hal tersebut dapat membangun
bonding dengan buah hati. Biasanya, masalah besar utamanya adalah dari perilaku orang tua yang selama ini sudah terjadi bertahun-tahun.
Kang Canun menjelaskan alasan anak-anak bisa membangkang kepada orang tua. Dia menilai sifat membangkang muncul ketika anak merasa tidak dipahami oleh orang tua.
"Makanya kenapa kita melihat anak-anak yang bermasalah di sekolah biasanya adalah anak-anak yang ada masalah di dalam rumah, yakni masalah
relationship emosi yang suka dipendam. Jadi, tidak memberikan kesempatan anak untuk mengungkapkan perasaan-perasaan serta emosi-emosi yang dia rasakan," kata Kang Canun.
Sederhananya, penulis buku 'Menikah Itu Mudah' menuturkan, alasan anak membangkang bahwa mereka ingin menyampaikan sesuatu yang dirasakannya.
Baca Juga: Bukik Setiawan: Ajarkan Anak Konsep Berbagi dengan Berdiskusi"Makanya ada kata, 'Ibu aja gak pernah ngertiin aku ngapain juga aku ngikutin ibu. Aku capek dinasehati terus.' Orang tua memang sudah melakukan yang terbaik dengan menasehati, tetapi terkadang penyakitnya manusia adalah over claim, yakni merasa sudah melakukan yang terbaik," ucap Kang Canun.
Sepanjang karier menjadi konsultan pernikahan, Kang Canun sering menemukan sebuah pola bahwa manusia terkadang suka over claim. Mereka tidak suka dikritik, padahal menurutnya kritik merupakan sarana self evaluation.
"Makanya tantangan dari manusia itu melakukan
self evaluation. Orang tua harus evaluasi apakah pola ngomongnya selama ini salah, misal mungkin hanya ajak anak ngomong ketika ia melakukan masalah. Kalau dia melakukan kebaikan tidak di ungkapkan oleh orang tua," lanjut Kang Canur menerangkan.
"Pola-pola ini yang biasanya bisa membuat anak merasa nggak dipahami. Jadi, membangkang itu tidak dari satu atau dua kejadian tetapi ini adalah tumpukan-tumpukan selama bertahun-tahun," tuturnya.
Baca Juga:
7 Adab Anak ke Orang Tua, Salah Satunya Jangan Merendahkan
Makna Dibalik Perintah Rasulullah Muliakan Ibu Sampai 3 Kali(gar)