LANGIT7.ID - , Jakarta -
Berbagi rezeki merupakan kegiatan baik yang berujung bisa membahagiakan orang lain. Orang tua dapat mengajarkan konsep berbagi sejak dini pada anak-anak.
Mengajarkan konsep berbagi dapat menumbuhkan kebaikan dan
kecerdasan emosional anak. Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak berbagi?
Aktivitas Pendidikan sekaligus Direktur Yayasan Guru Belajar,
Bukik Setiawan menyebut
berdiskusi menjadi cara tepat mengajarkan konsep berbagi pada anak.
Baca juga: Hadits Nabi: Anjuran Berbagi kepada Tetangga Terdekat "Dalam tindakan apapun, termasuk berbagi, anak penting untuk tahu alasannya. Kenapa harus berbagi dan lainnya. Ini yang jarang terjadi di mana kita sebagai pendidik mengajak murid-murid untuk berdiskusi tentang berbagi," ujar Bukik kepada Langit7 saat di temui di acara Dompet Dhuafa, Kamis (22/12/2022).
Menurut Bukik, saat ini orang tua maupun pendidik lebih banyak langsung mencontohkan kepada anak, ketika mengajarkan konsep berbagi. Padahal, menurut Bukik, seharusnya dikemukan juga alasan di balik perbuatan tersebut.
"Kita seringkali langsung memberikan contoh tentang berbagi seolah-olah kemudian setiap orang akan mengikuti berbagi. Sesuatu itu tidak akan diikuti kalau kita tidak tahu whynya," katanya.
Bagi pendiri Komunitas Guru Belajar Nusantara ini, ada seribu alasan berbagi yang bisa didiskusikan antara orang tua, pendidik, dan anak. Bukik meyakini diskusi itu akan membangun kesadaran yang kemudian mendorong untuk mempraktikkannya secara langsung.
"Prakteknya berdasarkan kesadaran bukan langsung kasih contoh berbagi. Karena namanya akal budi dan karakter itu ketika melakukan sesuatu berdasarkan kesadaran bukan karena paksaan," tutur Bukik.
Baca juga: Dugaan Penyelewengan Dana ACT Cederai Niat untuk BerbagiPenulis buku Anak Bukan Kertas Kosong itu menyarankan untuk memancing diskusi dengan bertanya pada anak murid.
"Misalnya bertanya, pernah enggak melihat orang membagikan sesuatu kepada orang lain? Kira-kira kenapa sih orang itu bagikan sesuatu itu? Yuk, kita diskusikan," lanjut Konsultan Teknis Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.
Selain bertanya langsung, orang tua atau pendidik bisa dengan menampilkan video berbagi, kemudian ajak anak untuk berdiskusi terkait itu.
"Di situ mereka diskusi dan berdebat. Mungkin mereka menemukan 10 jawaban lalu dikerucutkan menjadi dua. Kemudian dikerucutkan lagi mana yang paling masuk akal sehingga memutuskan dua atau tiga alasan kenapa orang berbagi,"paparnya.
Menurut alumni Universitas Airlangga ini, proses penyadaran akan konsep berbagi terjadi saat anak-anak berdiskusi, di mana nalar diskusi mereka berjalan dan aktif.
Baca juga: Lillik Fatkhu Diniyah, Guru MI Ini Berbagi Ilmu Lewat BukuBerbeda halnya bila anak hanya diarahkan atau diminta untuk berbagi tanpa tahu alasannya, akan membuat bosan.
"Proses penyadarannya di situ. Jadi penalarannya jalan. Jika dikasih tahu otak hanya menjadi gudang makanya boring. Tetapi kalau diskusi nalarnya jadi aktif," cetus Bukik.
(est)