Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Ramai Pengobatan Akhir Zaman, Pakar: Bukan Thibbun Nabawi, Perlu Validasi Medis

Muhajirin Senin, 26 Desember 2022 - 08:00 WIB
Ramai Pengobatan Akhir Zaman, Pakar: Bukan Thibbun Nabawi, Perlu Validasi Medis
Salah satu terapi dalam Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) (foto: pazindonesia.com)
LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan ramai perbincangan terkait pengobatan alternatif bernama Pengobatan Akhir Zaman (PAZ). PAZ ditemukan oleh seorang lulusan Teknik Penerbangan dari Delft, Haris Moejahid. Pengobatan yang disebut-sebut terinspirasi dari Al-Quran dan hadits itu, bisa melatih siapapun tanpa pandang profesi bisa melakukan terapi berbagai penyakit.

Direktur Ma'had Al-Mubarak Banjarmasin, Ustadz Muhammad Abduh Negara, menegaskan, metode Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) tidak termasuk thibbun nabawi. Secara ilmiah, PAZ juga memerlukan validasi dari ilmu kesehatan.

“PAZ tidak termasuk ke dalam Thibbun Nabawi, karena tidak ada dalil shahih dan sharih dari hadits Nabi SAW yang menunjukkan praktik pengobatan PAZ dipraktikkan atau disampaikan oleh Nabi SAW, atau dilakukan oleh seseorang di hadapan Rasulullah kemudian beliau mendiamkannya,” kata Ustadz Abduh dalam webinar 'Kupas Tuntas PAZ dari Sisi Syariat dan Sains' yang diikuti Langit7 pada Jumat (24/12/2022).

Baca Juga: Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Mestinya Saling Melengkapi

Bahkan, kata dia, pendiri PAZ Haris Moejahid menyebut metode pengobatan itu berasal dari pemahaman dan perenungan sendiri. Pemahaman dan perenungan itu diklaim terinspirasi dari Al-Qur’an.

“Bahkan hal itu, dikatakan sendiri oleh pendirinya, bahwa metode pengobatanya tersebut hasil pemahaman dan perenungannya sendiri yang diklaim terinspirasi dari Al-Qur’an,” kata Ustadz Abduh.

Pakar Fiqih dan Ushul Fiqih itu menjelaskan, tidak boleh sembarangan mengklaim terinspirasi dari Al-Qur’an. Pemahaman biasanya dihasilkan dari tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an. Tetapi, tadabbur tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetap harus disertai tafsir dan mampu memahami bahasa Arab.

Menurut dia, jika inspirasi yang dimaksud saat membaca ayat Al-Qur’an tentang kesehatan seperti madu, maka hal itu sudah banyak dilakukan oleh peneliti muslim. Bahkan, peneliti muslim melakukan penelitian serius dan memenuhi standar-standar ilmiah untuk menghasilkan kesimpulan tertentu.

Baca Juga: Kedokteran di Zaman Rasulullah, Mendorong Perkembangan Sains

“Wilayah ini juga disinggung oleh ulama, khususnya ulama belakangan, dengan istilah i’jaz ilmi,” ujar Ustadz Abduh.

Namun, kata dia, hasil penelitian yang terinspirasi dari Al-Qur’an, tidak memiliki sakralitas Al-Qur’an. Itu karena derajat dalalah yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an untuk hasil penelitian tersebut maksimal zhanni (dugaan), tidak sampai qath'i (keyakinan).

“Karena itu, jika di kemudian hari hasil penelitian tersebut terbukti keliru oleh penelitian yang mutakhir, kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada Al-Qur’an,” ungkap Ustadz Abduh.

Jika yang dimaksud terinspirasi hanya membaca terjemahan Al-Qur’an, maka itu jelas bermasalah. Syarat tadabbur harus paham bahasa Arab dan membaca tafsir. Tidak bisa hanya dari terjemahan.

“Jika mengaku terinspirasi dari membaca terjemahan Al-Qur’an, lalu membuat metode pengobatan tertentu yang diklaim bersumber dari Al-Qur’an, bahkan yang mengkritisinya dianggap meragukan Al-Qur’an, maka ini jelas bermasalah, karena ini telah melampaui batas ‘inspirasi’ yang menjadi bahasan para ulama sebelumnya,” ujar Ustadz Abduh.

Dia menegaskan, klaim ‘bersumber dari Al-Qur’an’ dan ‘meragukan Al-Qur’an’ itu sudah melampaui bahasan Al-I’jaz Al-Ilmi. Bahkan, seandainya itu diterima sebagai ‘inspirasi’, maka validasinya tetap perlu penelitian standar dan pengujian dari para ahli di bidang yang diteliti. Untuk PAZ, tentu ini menjadi wilayah para ahli kesehatan.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Ilmu Kedokteran Era Peradaban Islam

Atas dasar itu, Ustadz Abduh menegaskan, PAZ tidak termasuk dalam Thibbun Nabawi. Itu karena tidak ada hadits shahih yang menjelaskan tentang praktik tersebut pernah dilakukan pada masa Rasulullah.

Dia mengutip pernyataan Dr Muhammad Sulaiman Al-Asyqar menyinggung khilaf ulama tentang perbuatan Nabi Muhammad SAW dalam perkara duniawi, apakah menjadi hujjah yang wajib diikuti atau tidak.

Menurut beliau, di antara tokoh yang berpandangan ia merupakan hujjah adalah Ibnu Qayyim, sedangkan yang berpandangan sebaliknya adalah Ibnu Khaldun. Dan beliau memilih pendapat yang kedua.

“Namun, Ibnu Qayyim dalam kitab Ath-Thibbun Nabawi tidak memahami semua hadits Nabi Muhammad SAW tentang pengobatan itu bisa diterapkan di mana saja, beliau tetap memperhatikan keadaan dan tempat,” ujar Ustadz Abduh.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)