Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Mestinya Saling Melengkapi

Muhajirin Selasa, 29 November 2022 - 17:20 WIB
Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Mestinya Saling Melengkapi
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Kedokteran modern seringkali dianggap tidak sejalan dengan pengobatan islami berbasis herbal yang biasa disebut thibbun nabawi. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, mengatakan, ilmu kedokteran dan thibbun nabawi sebenarnya saling melengkapi.

Al-Qur’an dan hadits memberikan petunjuk tentang obat-obat alami yang bisa digunakan. Sementara, medis memberikan petunjuk aturan pemakaian.

Buya Yahya mencontohkan madu yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 68-69. Dalam ayat itu disebutkan lebah memakan makanan yang baik. Dari perut lebah keluar madu yang warnanya bermacam-macam, tergantung makanan jenis bunga yang dimakan.

Baca Juga: Perkembangan Ilmu Kedokteran dalam Sejarah Islam, Lahirnya Dokter Muslim Hebat

Al-Qur’an lalu menginformasikan di dalam madu terdapat obat bagi manusia. Namun, tidak disebutkan dosis dan takaran konsumsi bagi pasien. Ilmu kedokteran bisa menjelaskan dosis-dosis atau takaran pemakaian. Ini pun sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Di dalam madu itu ada kesembuhan untuk manusia. Maka yakinlah pada madu itu ada kesembuhan. Akan tetapi, semua ada aturannya. Memang madu disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai obat. Cuma bukan berarti serta-merta dengan madu semuanya pasti sembuh,” kata Buya Yahya di kanal youtube-nya, Selasa (29/11/2022).

Anjuran untuk bertanya kepada dokter mengenai pengobatan pun secara tersirat dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 43. Dalam ayat itu Allah berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Baca Juga: Aisyah, Sosok Istri Nabi sebagai Tenaga Medis Mumpuni

Ayat tersebut merupakan isyarat kepada manusia untuk bertanya kepada ahli. Dalam hal ini, kata Buya Yahya, orang yang ahli perihal medis adalah para dokter. Melalui ilmu farmasi, para dokter itu bisa menguraikan takaran-takaran madu yang bisa dikonsumsi untuk penyakit tertentu.

“Jangan karena disebutkan dalam Al-Qur’an sehingga kekeh dengan itu. Al-Qur’an juga menegaskan untuk bertanya kepada orang-orang yang ahli. Kalau kata dokter jangan (minum madu), jangan dikasih madu dulu. Tidak boleh sombong kita. Kalau urusan penyakit, tanya dulu kepada dokter. Kalau dokter ngasih petunjuk, baru (minum madu),” ujar Buya Yahya.

Buya Yahya mengatakan, Rasulullah SAW pun melarang umatnya untuk membabi-buta. Segala tindakan dan keputusan harus didasari ilmu, sehingga keputusan yang dihasilkan memberikan maslahat dan manfaat.

“Nabi tidak mengajarkan membabi buta begitu. Nabi mengajarkan kita untuk patuh kepada yang tahu. Sehingga minum madu sendiri apakah ada aturan, minumnya berapa, dosisnya berapa, kita ingin menggabungkan bahwa ada herbal, thibbun nabawi. Tidak boleh sombong,” kata Buya Yahya.

Baca Juga: Tak Hanya Ibnu Sina, Ini Para Ilmuwan Kedokteran Hebat dalam Sejarah Islam

Maka itu, kata dia, orang yang bergelut di bidang thibbun nabawi tidak boleh mengharamkan ilmu kedokteran. Begitu pun ahli medis tidak boleh mengharamkan thibbun nabawi. Semuanya saling melengkapi.

“Makanya medis dan thibbun nabawi seiring. Sehingga jika bisa diselesaikan dengan obat-obat yang sifatnya tidak ada campuran kimiawi, dahulukan itu. Cuma itu harus ada petunjuk dokter. Sebab, pengobatan itu ada dosis-dosis. Minum madu berapa ukuran, apakah satu timba?” tutur Buya Yahya.

Medis yang bisa menjelaskan rincian pemakaian obat herbal. Al-Qur’an memberikan petunjuk tentang obat-obat alami atau obat herbal. Lalu, medis menjelaskan tentang kadar dan dosis pemakaian.

Baca Juga: Kedokteran di Zaman Rasulullah, Mendorong Perkembangan Sains

“Karena dokter itu ada ilmunya. Madu begini ada kandungan begini. Jadi, yang biasa menggunakan herbal juga harus ada aturan. Jadi ternyata yang enggak boleh itu sombong,” ungkap Buya Yahya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)