LANGIT7.ID -, Jakarta - Ratusan
pengungsi Rohingya dari Myanmar berlabuh di pantai Desa Ladong, Aceh, pada Senin (26/12/2022) lalu. Dalam video yang beredar kondisi para pengungsi terlihat kelelahan dan kurus.
Kapolsek Muara Tiga Ipda Fauzi mengatakan kondisi kelelahan dan lemah yang terjadi karena mereka mengalami
dehidrasi.
"Mereka sangat lemah karena dehidrasi dan
kelelahan setelah berminggu-minggu di laut," ujar Kapolsek Fauzi dikutip dari Associated Press, Rabu (28/12/2022).
Baca juga: 185 Pengungsi Rohingya Terdampar di Aceh, 20 Orang Meninggal di LautKomisaris Tinggi PBB untuk pengungsi mengatakan ada 26 pengungsi tewas dalam perjalanan panjang tersebut.
Melansir The Associated Press, Rabu (28/12/2022), salah seorang pengungsi, Rosyid, mengatakan bahwa mereka meninggalkan kamp pengungsi di Bangladesh pada akhir November dan hanyut di laut lepas.
Dia mengatakan setidaknya 20 orang dari mereka meninggal di atas kapal karena gelombang tinggi dan sakit. Dalam keterangannya, tubuh pengungsi yang tewas dibuang ke laut.
Menurut UNHCR, lebih dari 2.000 orang dilaporkan melakukan perjalanan laut yang berisiko di Laut Andaman dan Teluk Benggala tahun ini, dan hampir 200 orang meninggal.
UNHCR juga menerima laporan yang belum terkonfirmasi adanya satu kapal tambahan dengan sekitar 180 orang masih hilang, diduga semua penumpang tewas.
Baca juga: Sahkah Kita Dukung Palestina, Rohingya hingga Uighur? Ini Penjelasan Komnas HAM"Dengan tidak adanya respons segera, akal, dan terkoordinasi dari pemerintah daerah untuk membantu pengungsi Rohingya yang masih berada di atas kapal yang terancam, nyawa mungkin hilang," kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid dalam sebuah pernyataan.
Direktur Proyek Arakan, Chris Lewa yang bekerja untuk mendukung Rohingya di Myanmar, mengatakan lima kelompok Rohingya meninggalkan kamp pengungsi di distrik Cox's Bazar di Bangladesh dengan kapal yang lebih kecil untuk menghindari deteksi penjaga pantai setempat sebelumnya.
Kemudian mereka dipindahkan ke lima kapal yang lebih besar untuk perjalanan masing-masing.
Lebih dari 1 juta pengungsi Rohingya di Myanmar telah melarikan diri ke Bangladesh selama beberapa dekade, termasuk sekitar 740.000 orang yang melintasi perbatasan mulai Agustus 2017, ketika militer Myanmar melancarkan tindakan brutal.
Pasukan keamanan Myanmar dituduh melakukan pemerkosaan massal, pembunuhan, dan pembakaran ribuan rumah. Pengadilan internasional meninjau tuduhan genosida terhadap mereka.
"Tahun ini bisa menjadi salah satu ingatan paling mematikan bagi orang-orang yang melakukan perjalanan berbahaya melalui laut. Mereka terus mempertaruhkan semuanya karena kondisi yang keras di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, di mana keamanan dan kondisi kehidupan yang semakin memburuk di Myanmar, yang berada di bawah kekuasaan militer sejak kudeta hampir dua tahun lalu," tutur Usman dari Amnesti Internasional.
Baca juga: PBB dan Bangladesh Kerja Sama Bantu Pengungsi RohingyaMalaysia menjadi tujuan umum bagi banyak pengungsi yang tiba dengan perahu, tetapi mereka juga ditahan di negara tersebut. Masalah tersebut membuat para pengungsi mencari keselamatan di Provinsi Aceh di Indonesia, dalam perjalanan ke Malaysia.
UNHCR memuji pihak berwenang dan masyarakat lokal Indonesia yang membawa lebih dari 200 orang Rohingya yang putus asa, banyak di antaranya membutuhkan perhatian medis segera.
Perwakilan UNHCR Indonesia, Ann Mayman mengatakan nelayan Indonesia dan otoritas lokal menyelamatkan dan menurunkan 58 pengungsi dadi dua kelompok pada hari Ahad dan 174 orang pada Senin.
"Kami menyambut baik tindakan kemanusiaan ini oleh komunitas lokal dan otoritas di Indonesia."
(est)