LANGIT7.ID, Jakarta -
Pesantren tak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, namun memiliki peluang besar untuk meningkatkan perekonomian ummat. Ketua DPW Himpunan Ekonomi Bisnis Pesatren (Hebitren) Jawa Tengah, KH Miftahuddin, mengatakan, pesantren memiliki peluang membangun korporasi.
Pria yang akrab disapa Gus Miftah itu memaparkan beberapa dasar pemikiran mengenai pengembangan ekonomi pesantren. Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan dan dakwah sudah umum, namun sebagai lembaga pemberdaya
ekonomi masih terdengar samar di tengah masyarakat.
Baca Juga: Sandiaga Dorong Mahasiswa Turut Andil Dalam Pertumbuhan Ekonomi Kreatif dan UMKM"Kalau sebagai lembaga pemberdaya ekonomi, maka
sami’na wa ata’na-nya akan lebih kuat, sehingga pesantren menjadi role model bagi masyarakat untuk pengembangan ekonomi," kata Gus Miftah dalam webinar Korporatisasi Usaha Pondok Pesantren melalui kanal youtube NU Online, dikutip Senin (23/8/2021).
Kedua, ekonomi pesantren sebagai kebutuhan biaya pengembangan pendidikan. Ini merupakan dasar pemikiran yang penting, sebab selama ini rata-rata pesantren masih mengandalkan wali santri. Ke depan, pesantren bisa mandiri secara ekonomi, sehingga semua santri bisa belajar tanpa dipungut biaya.
Ketiga, pesantren memiliki sumber daya manusia yang bisa dikembangkan. Tak hanya santri, pesantren juga dikenal memiliki hubungan erat dengan para alumninya. Maka itu, untuk mengembangkan ekonomi pesantren bukan perkara sulit karena sudah memiliki pasar.
Keempat, pesantren mandiri dari segala sisi. Peningkatan kemandirian dan kualitas pendidikan pesantren dapat berkontribusi terhadap kemandirian ekonomi umat dan bangsa. Namun yang terjadi, menurut Gus Miftah, belum ada kebersamaan.
Baca Juga: Sandiaga Uno Sumringah Ekonomi Kreatif Indonesia Masuk 3 Besar Dunia"Sebagai contoh, kemandirian di bidang pertanian itu banyak di dalam pesantren. Namun, masih berjalan sendiri-sendiri. Jika berjalan bersama-sama akan menghasilkan kemandirian yang kuat dan akan lebih mudah," kata Gus Miftah.
Dia mencontohkan, setiap pesantren pasti membutuhkan pakaian seragam untuk para santri. Jika pesantren bersama-sama membangun korporasi di bidang konveksi atau pembuatan seragama, maka santri akan lebih mudah mendapatkan seragam. Dana juga berputar di kalangan pesantren.
Gus Miftah lalu memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun korporasi pesantren. Pertama, perlu mengidentifikasi jenis usaha pesantren terlebih dahulu. Identifikasi itu akan menciptakan ekosistem bisnis.
Baca Juga: Mahasiswa ini Kembangkan Kemasan Makanan dari Rumput Laut Pengganti StyrofoamKedua, kerja sama. Setelah identifikasi, maka selanjutnya adalah meningkatkan sekaligus membenahi tata-kelola antara manajemen pendidikan dan manajemen bisnis.
Terkahir, perlu peningkatan sumber daya pelaku bisnis pesantren, agar pengelolaan bisnis pesantren bisa lebih professional. Pesantren bisa melibatkan para alumni untuk pengembangan dan mendidik para santri.
"Kalau bicara korporatisasi usaha pesantren, secara peluang ada, secara sumber daya memungkinkan, korporatisasi ini akan berjalan lancer dan sukses manakala ditunjang komitmen setiap pesantren untuk bekerja sama dalam pengembangan ekonomi dan bisnisnya," ungkapnya.
Baca Juga:
Keluar dari PNS, Muslim Ini Sukses Jalankan Bisnis PO Bus
Jaga Pasokan Listrik, PLN Beli Batu Bara Langsung dari Pemilik Tambang(asf)