Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pesantren Bisa Bangun Korporasi untuk Ekonomi Ummat

Muhajirin Senin, 23 Agustus 2021 - 12:19 WIB
Pesantren Bisa Bangun Korporasi untuk Ekonomi Ummat
Pondok Modern Darussalam Gontor. Foto: gontor.ac.id
LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren tak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, namun memiliki peluang besar untuk meningkatkan perekonomian ummat. Ketua DPW Himpunan Ekonomi Bisnis Pesatren (Hebitren) Jawa Tengah, KH Miftahuddin, mengatakan, pesantren memiliki peluang membangun korporasi.

Pria yang akrab disapa Gus Miftah itu memaparkan beberapa dasar pemikiran mengenai pengembangan ekonomi pesantren. Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan dan dakwah sudah umum, namun sebagai lembaga pemberdaya ekonomi masih terdengar samar di tengah masyarakat.

Baca Juga: Sandiaga Dorong Mahasiswa Turut Andil Dalam Pertumbuhan Ekonomi Kreatif dan UMKM

"Kalau sebagai lembaga pemberdaya ekonomi, maka sami’na wa ata’na-nya akan lebih kuat, sehingga pesantren menjadi role model bagi masyarakat untuk pengembangan ekonomi," kata Gus Miftah dalam webinar Korporatisasi Usaha Pondok Pesantren melalui kanal youtube NU Online, dikutip Senin (23/8/2021).

Kedua, ekonomi pesantren sebagai kebutuhan biaya pengembangan pendidikan. Ini merupakan dasar pemikiran yang penting, sebab selama ini rata-rata pesantren masih mengandalkan wali santri. Ke depan, pesantren bisa mandiri secara ekonomi, sehingga semua santri bisa belajar tanpa dipungut biaya.

Ketiga, pesantren memiliki sumber daya manusia yang bisa dikembangkan. Tak hanya santri, pesantren juga dikenal memiliki hubungan erat dengan para alumninya. Maka itu, untuk mengembangkan ekonomi pesantren bukan perkara sulit karena sudah memiliki pasar.

Keempat, pesantren mandiri dari segala sisi. Peningkatan kemandirian dan kualitas pendidikan pesantren dapat berkontribusi terhadap kemandirian ekonomi umat dan bangsa. Namun yang terjadi, menurut Gus Miftah, belum ada kebersamaan.

Baca Juga: Sandiaga Uno Sumringah Ekonomi Kreatif Indonesia Masuk 3 Besar Dunia

"Sebagai contoh, kemandirian di bidang pertanian itu banyak di dalam pesantren. Namun, masih berjalan sendiri-sendiri. Jika berjalan bersama-sama akan menghasilkan kemandirian yang kuat dan akan lebih mudah," kata Gus Miftah.

Dia mencontohkan, setiap pesantren pasti membutuhkan pakaian seragam untuk para santri. Jika pesantren bersama-sama membangun korporasi di bidang konveksi atau pembuatan seragama, maka santri akan lebih mudah mendapatkan seragam. Dana juga berputar di kalangan pesantren.

Gus Miftah lalu memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun korporasi pesantren. Pertama, perlu mengidentifikasi jenis usaha pesantren terlebih dahulu. Identifikasi itu akan menciptakan ekosistem bisnis.

Baca Juga: Mahasiswa ini Kembangkan Kemasan Makanan dari Rumput Laut Pengganti Styrofoam

Kedua, kerja sama. Setelah identifikasi, maka selanjutnya adalah meningkatkan sekaligus membenahi tata-kelola antara manajemen pendidikan dan manajemen bisnis.

Terkahir, perlu peningkatan sumber daya pelaku bisnis pesantren, agar pengelolaan bisnis pesantren bisa lebih professional. Pesantren bisa melibatkan para alumni untuk pengembangan dan mendidik para santri.

"Kalau bicara korporatisasi usaha pesantren, secara peluang ada, secara sumber daya memungkinkan, korporatisasi ini akan berjalan lancer dan sukses manakala ditunjang komitmen setiap pesantren untuk bekerja sama dalam pengembangan ekonomi dan bisnisnya," ungkapnya.

Baca Juga:

Keluar dari PNS, Muslim Ini Sukses Jalankan Bisnis PO Bus

Jaga Pasokan Listrik, PLN Beli Batu Bara Langsung dari Pemilik Tambang


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)