LANGIT7.ID, Jakarta - Orang tua berkewajiban mendidik anak agar terhindar dari penyimpangan seksual
lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Penyimpangan seksual tersebut sudah menjadi isu global, sehingga sangat penting menjaga anak dari pengaruh buruk tersebut.
CEO Penerbit Sakeena, Ihsanun Kamil Pratama, menjelaskan, ada beberapa cara menjelaskan bahaya LGBT kepada anak. Waktu yang tepat adalah ketika anak-anak sudah bisa diajak berdiskusi sekitar usia empat tahun.
Orang tua bisa memberikan analogi sederhana yang mudah dipahami oleh akal anak. Dengan menggunakan analogi sederhana, anak bisa menyerap dan lebih mudah paham. Seperti menggunakan analogi lampu merah yang sangat mudah ditemui.
Baca Juga: Hikmah Islam Larang LGBT: Terbukti Bisa Hancurkan Peradaban Manusia
Anak bisa ditanya terlebih dahulu tentang fungsi lampu merah, kuning, dan hijau di persimpangan jalan. “Nak, ketika lampu merah, biasanya para pengemudi itu ngapain di jalan?”
“Nah, kalau ada orang yang sengaja jalan terus, atau bahkan ngebut, ketika lampu merah, atau sengaja berhenti ketika lampu hijau, itu bikin kacau enggak?”
Setelah anak menjawab, jawab secara perlahan bahwa itu adalah penyimpangan. Pengguna lalu-lintas tidak boleh melanggar aturan yang sudah ditetapkan agar bisa selamat sampai tujuan.
“Nah, itu (melanggaran lampu merah) namanya penyimpangan. Penyimpangan yang bahkan hewan pun normalnya mencari lawan jenis,” kata Ihsanun dalam kuliah
online yang diikuti
Langit7, Kamis (29/12/2022).
Baca Juga: Edukasi Seks dalam Islam Harus Tumbuhkan Cinta Anak pada Allah
Setelah itu, orang tua bisa masuk ke tema mengenai fitrah laki-laki dan perempuan. Misal, orang tua memberikan pemahaman tentang konsep berpasangan dalam Al-Qur’an. Siang dan malam, begitupun dengan laki-laki dan perempuan. Itu fitrah kehidupan.
“Allah menciptakan lelaki berpasangan dengan perempuan, begitu juga sebaliknya. Ada beberapa orang yang menyimpang dari fitrah Allah, dengan menyukai sesama jenis, dan ini tidak Allah perbolehkan,” ucap Ihsanun.
Jika anak sudah masuk usia
mumayyiz atau di atas tujuh tahun, orang tua bisa menceritakan kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan LGBT. Seperti kisah kaum Nabi Luth.
“Kemudian Ayah Bunda bisa sambil jelaskan misal kisah Nabi Luth dengan kaum Sodom, jika usianya sudah masuk mumayyiz di atas 7 tahunan anak akan lebih mudah memahaminya,” ujar Ihsanun.
Baca Juga: Berikut Tahapan Awal Edukasi Seks Islami untuk Anak
Orang tua perlu mengenalkan pada anak konsep fitrah manusia setiap manusia terlahir ke dunia. Mulai dari proses kehamilan dan kelahiran, lalu apa tujuan manusia hidup di dunia. Dari situ anak bisa mengenal konsep perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan.
“Sehingga mereka juga bisa menghargai pengorbanan seorang ibu utamanya dalam melahirkan setiap manusia khalifah Allah yang terlahir ke dunia,” ujar Ihsanun.
(jqf)