LANGIT7.ID, Jakarta - Edukasi seks dalam Islam tidak sedangkal membicarakan tentang alat kelamin, perubahan saat anak baligh, atau hubungan seksual. Namun, ada sesuatu yang lebih penting yang harus diperhatikan.
CEO Penerbit Sakeena, Ihsanun Kamil Pratama, menegaskan, tujuan edukasi seks pada anak adalah membantu anak-anak untuk menumbuhkan rasa cinta dan kagum kepada Allah Ta’ala. Ini sangat penting, karena banyak orang tua kesulitan untuk menyuruh anak beribadah.
"Contoh sederhananya adalah saalat,” kata Ihsanun dalam webinar
Islamic Sex Education yang diikuti Langit7, Kamis (29/12/2022).
Kadang anak malas-malasan meski azan sudah berkumandang dan sama sekali tidak tergerak untuk berangkat beribadah. Meski bergerak salat, tapi karena terpaksa. Jika shalat di masjid, ada kemungkinan beribadah sambil bermain-main.
Baca Juga: Edukasi Seks dalam Islam, Tak Hanya Sebatas Hubungan Seksual
Hal itu terjadi karena kebanyakan orang tua hanya menggunakan intruksi-intruksi. Instruksi kepada anak untuk beribadah tidak bisa membuahkan inisiatif untuk beribadah dan beramal baik.
Maka itu, orang tua membantu anak untuk menumbuhkan rasa cinta dan kagum di hatinya tentang Allah. Jika seorang manusia sudah jatuh cinta, tentu dia akan berkorban apapun demi sesuatu yang dicintainya.
“Terbayang betapa indahnya jika anak kita beribadah itu karena cinta kepada Allah, bukan karena terpaksa,” kata Ihsanun.
Pada akhirnya, benang merah edukasi seks Islami adalah menumbuhkan kecintaan kepada Allah. Jika sudah cinta, maka anak akan berinisiatif untuk beribadah kepada-Nya. Jika sudah cinta, maka anak melatih diri mengendalikan nafsu.
Baca Juga: Pendidikan Seksualitas Penting Masuk dalam Kurikulum Sekolah
“Termasuk nafsu libido,” kata Ihsanun. Jika sudah cinta, maka anak hanya akan menyalurkan nafsu di jalan yang diridhai oleh Allah. jika sudah cinta, maka anak tidak akan bertingkah sembarangan saat sedang sendirian.
“Maka, edukasi seks tentu penting sekali untuk dimulai dari kecintaan kepada Allah,” ucap Ihsanun.
Ihsanun menegaskan, edukasi seks bukan hanya tentang sekadar penis, vagina,
sexual intercourse, atau perubahan fisiologis saat baligh. “Namun, berbicara tentang tanggung jawab,” tuturnya.
Ketika manusia menjadi baligh, maka dia yang akan menanggung seorang diri amalan-amalannya. Dosa mulai dihitung, jariyah mulai ada. Maka, cara dia agar bisa bertanggung jawab, tidak mudah menyalahkan orang-orang yang ada di sekitarnya adalah sebuah hal yang sangat penting.
Apa yang terjadi jika anak baligh, tetapi tidak ada
sense of responsibility? Salah satu dampaknya adalah anak bisa saja menonton film porno saat sendiri. Anak bisa melakukan mastrubasi saat ada panggilan syahwat muncul.
Baca Juga: Ustadz Amar: Ubah Cara Pandang Edukasi Seks Tabu
Hal paling memprihatinkan, anak bisa saja melakukan aktivitas-aktivitas yang mendekati zina, melakukan tindakan yang jauh dari rasa tanggungjawab, dan hanya sekadar mengejar kenikmatan saja.
“Silakan saja ayah dan bunda
googling tentang angka kehamilan di luar nikah atau angka aborsi yang dilakukan akibat sebuah ‘kecelakaan’,” kata Ihsanun.
Tak boleh dilupakan juga, saat ini manusia hidup pada era yang semua mudah diakses dari ujung jari. Termasuk gambar dan video yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, tidak jarang konten seperti itu muncul secara tiba-tiba.
“Padahal niatnya sama sekali tidak membuka, tetapi jadi ada ‘pancingan’,” kata Ihsanun.
(jqf)