LANGIT7.ID, Jakarta - CEO Penerbit Sakeena, Ihsanun Kamil Pratama, mengungkapkan, tujuan
edukasi seks Islami adalah membentuk anak bisa bertindak di jalan yang Allah ridhai terkait kehidupan seksualitas.
Tindakan itu sekaligus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sehingga kehidupan seksualitas anak sehat dan berkah. Jauh dari berbagai jenis penyimpangan. Maka ada beberapa hal yang perlu diberikan kepada anak untuk mencapai hal tersebut.
Di antaranya memberikan kelayakan berpakaian, memberikan kelayakan bersikap, lulus
toilet training, mandiri menjaga tubuh, memberikan kelayakan informasi, dan pemisahan tempat tidur. Enam poin ini harus dilakukan secara berkesinambungan setiap hari. Secara fundamental berikut tahapan awal dalam edukasi seks islami pada anak:
1. Memberikan Kelayakan BerpakaianMemberikan kelayakan berpakaian berarti menghargai dan mendidikan anak menjadi seutuh-utuhnya manusia. Hal yang membedakan manusia dari hewan adalah budi yang luhur.
“Ini disimbolkan dengan pakaian,” kata Ihsanun dalam webinar
Islamic Sex Education yang diikuti Langit7, Kamis (29/12/2022).
Baca Juga: Edukasi Seks dalam Islam Harus Tumbuhkan Cinta Anak pada Allah
Islam adalah agama yang menjamin kemuliaan bagi manusia, maka Allah memberikan bimbingan tentang Batasan aurat. Ternyata, satu-satunya pihak yang sama sekali tidak ada Batasan aurat hanya pasangan halal seseorang.
“Berarti, kita dan anak kita pun aslinya ada batasan aurat,” kata Ihsanun. Hal ini menimbulkan konsekuensi. Di antaranya mandi bareng anak sejatinya tidak lagi dilakukan.
Dalam hal ini, orang tua juga harus memberikan contoh berpakaian yang baik kepada anak. Misal, tidak berpakaian terbuka, meskipun di dalam rumah. Upayakan tetap memakaikan pakaian tertutup agar anak tidak terbiasa melihat batasan aurat lawan jenis.
“Cukup sama pasangan aja, bahkan tanpa ada seutas benang pun tiada masalah,” kata Ihsanun.
Orang tua harus memperhatikan pemberian pakaian untuk anak. Meski nampak lucu anak memakai rok mini, tapi itu kontraproduktif dengan pengenalan aurat. Maka, orang tua harus memberikan pakaian yang
proper atau pakaian yang menutup aurat.
Baca Juga: Tiga Tips Ajarkan Anak Agar Terhindar dari Kekerasan Seksual
“Karena dengan kelayakan berpakaian, anak jadi mengenal aurat dan tahu apa saja yang perlu dilindungi dari dirinya,” kata Ihsanun. Jika orang tua memperhatikan kelayakan pakaian, maka anak pun bisa menghormati auratnya dan aurat orang lain.
2. Memberikan Kelayakan BersikapOrang tua harus mengenalkan maskulinitas kepada anak laki-laki dan feminin kepada anak perempuan. Orang tua tidak boleh mencandai anak laki-laki dengan memberikan dandanan perempuan. Begitu pun sebaliknya.
“Apakah berarti anak perempuan tidak boleh mandiri? Jangan salah. Mandiri itu penting untuk lelaki dan perempuan, tetapi tidak sama dengan menjadikan tomboy,” ujar Ihsanun.
Orang tua juga harus mengajarkan kesantunan dan kelembutan untuk anak laki-laki. Tetapi, bukan bersikap seperti melambai-lambai. Santun dan bersikap lembut itu berbeda dengan melambai.
“Dan bukan berarti anak lelaki tidak boleh menangis,” ungkap Ihsanun.
Baca Juga: Sebelum Kenalkan Pendidikan Seks, Ubah Pola Pikir Orang Tua Lebih Dulu
Mengajarkan maskulinitas kepada anak berarti mengajarkan cara seorang lelaki perlu berjuang dan bertanggung jawab. Sebab, perlu diingat, dalam Islam, anak lak-laki jika sudah baligh sudah harus mandiri. Kehidupan anak-anak laki sesudah baligh bukan lagi kewajiban orang tua.
“Kalaupun masih diberikan, sifatnya bukan lagi kewajiban, tapi sedekah,” ujar Ihsanun. Namun, saat ini bisa disaksikan masih banyak anak laki-laki baligh menggunakan uang sedekah dari orang tua untuk bersenang-senang.
“Karenanya, anak laki-laki itu perlu pelan-pelan dibimbing tentang kelaki-lakiannya karena lelaki itu pemimpin bagi wanita,” ujar Ihsanun.
(jqf)