LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Ketua
Komisi II DPR RI, Yanuar Prihatin menilai sistem pemilu proporsional tertutup hanya akan menghambat kompetisi antar sesama kader dalam satu partai. Sistem proposional tetutup berpeluang menghidupkan oligarki dalam tubuh partai politik.
"Bagi partai politik yang punya tradisi komando yang kuat dan sedikit otoriter, sistem pemilu proposional tertutup ini lebih disukai," ujar Yanuar dalam keterangannya, Kamis (5/1/2023).
Baca Juga: Wacana Pemilu Proporsional Tertutup, Dasco: Sebuah Warning dari KPUMenurut Yanuar, proporsional tertutup dinilai akan menghidupkan
oligarki di dalam partai di masa lalu itu. Sementara oligarki politik relatif mendapatkan hambatan untuk tumbuh melalui sistem proporsional terbuka.
"Tertutupnya kompetisi antara sesama kader. Juga melahirkan para politisi yang lebih mengakar ke atas daripada ke bawah," ungkapnya.
Politisi PKB itu khawatir sistem proporsional tertutup dimanfaatkan oleh kader
partai politik yang berjiwa oportunis, elitis dan tidak mampu berkomunikasi dengan publik.
Baca Juga: NasDem: Sistem Proporsional Tertutup Kuatkan Oligarki Partai Politik"Jika ada pihak mengusulkan
sistem proporsional tertutup, mereka ingin membawa musibah dan kecelakaan dalam demokrasi. Apalagi, jika Mahkamah Konstitusi (MK) turut melegalisasi sistem tertutup tersebut," kata Yanuar.
Yanuar meminta tidak ada satu pihak yang bermain-main dengan sistem kepemiluan yang sudah ada di Indonesia. Kegairahan dan partisipasi politik rakyat yang sudah terjadi melalui pemilu proporsional terbuka hilang karena sistem proposional tertutup.
"Kita semua sudah berinvestasi besar untuk menumbuhkan kegairahan dan partisipasi politik rakyat. Memperkuat hubungan timbal balik antara rakyat dan wakilnya, serta membangun budaya kompetisi yang masih terukur," tuturnya.
Baca Juga:
Beda dengan Parpol, Muhammadiyah Usulkan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup
Tolak Pemilu 2024 Coblos Partai, Fahri Hamzah: Tradisi Komunis
(gar)