LANGIT.ID, Jakarta - Ada kalimat
sayyidul istighfar yang diajarkan Nabi Muhammad SAW agar bisa diamalkan umatnya. Barang siapa membacanya akan mendapatkan jaminan surga.
Pendakwah,
Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengungkapkan, kalimat tersebut dikatakan sayyidul istighfar yang berarti memiliki puncak tertinggi dalam permohonan ampun kepada Allah SWT.
"Astaghfirullah itu, merupakan kalimat
istighfar yang standar. Sementara sayyidul istighfar terdapat pada hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari," kata dia dalam penggalan kajiannya, Jumat (6/1/2023).
Adapun kalimat sayyidul istighfar tersebut, yakni:
"Allahumma Anta Rabbi, la ilaha illa Anta khalaqtani, wa ana 'abduka, wa ana ala ahdika wawa'dika mastatha'tu, audzubka min syarrima shana'tu, abu'u laka bini'matika alayya wa abu'u laka bi dzanbi, faghfirli, fa innahu la yaghfirudzunuba illa Anta."
Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu." (HR. Bukhari).
UAH menganjurkan kaum muslimin untuk membaca kalimat sayyidul istighfar itu ketika hendak tidur. Dengan menghayati dan merasakan makna mendalam dari kalimat sayyidul istighfar tersebut.
"Adapun jaminan dari Nabi SAW, barang siapa membaca ini lantas meninggal dunia dalam tidurnya, maka surgalah tempatnya," katanya.
Syaratnya, lanjut dia, kaum muslimin mesti membacanya dengan benar dan memahami arti serta maknanya secara mendalam.
"Makna hadis tersebut adalah mengharapkan rahmat-Nya dan sebagai bentuk upaya semaksimal mungkin dari seorang muslim untuk menepati perjanjian yang pernah dibuat dengan Allah."
"Karena kita pernah berjanji kepada Allah sejak usia di kandungan empat bulan. Di mana saat itu ruh ditiupkan ke dalam jasad," tambahnya.
Allah SWT berfirman, Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A'raf: 172).
(bal)