LANGIT7.ID, Jakarta -
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan lagi fatwa pengelolaan sampah. Jangan sampai masalah tersebut malah berdampak pada kerusakan lingkungan.
Fatwa MUI Nomor 41 tahun 2014 menjelaskan bahwa
ajaran Islam sangat peduli pada pengelolaan sampah demi lingkungan hidup yang lebih baik.
Sistem Informasi
Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, total timbunan sampah rumah tangga disepanjang tahun 2022 dari seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia sebanyak 3,8 juta ton.
Dari angka tersebut, 1,2 juta ton atau sebesar 31,05 persennya tidak terkelola. Sementara dilihat dari komposisi sampah berdasarkan jenisnya, sampah sisa makanan adalah yang paling mendominasi, yaitu sebesar 47,4 persen.
Melansir laman MUI, besaran angka tersebut menandakan masyarakat Indonesia membuang makanannya hingga 1,8 ton dalam setahun belakangan. Mirisnya, angka itu cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lain yang kekurangan makanan.
Padahal, Islam melarang umatnya untuk melakukan perbuatan mubazir. Seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Isra:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Isra: 27)
Atas dasar itulah MUI sejak 2014 mengeluarkan fatwa tentang pengelolaan sampah. Dengan ketentuan hukum sebagai berikut:
1. Setiap Muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir (menyia-nyiakan) dan israf (berlebihan);
2. Membuang sampah sembarangan dan/atau membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain hukumnya haram;
3. Pemerintah dan Pengusaha wajib mengelola sampah guna menghindari kemudharatan bagi makhluk hidup;
4. Mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat hukumnya wajib kifayah.
Apalagi sampah sisa makanan menyumbang 6-8 persen emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Sehingga dampaknya dapat mengguncang keseimbangan tatanan alam.
Akibatnya berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem seperti badai, kekeringan berkepanjangan, dan kerugian lainnya. Terlebih Islam melarang umatnya untuk membuang-buang makanan, karena merupakan perbuatan setan.
Tips Mengurangi Sampah Sisa MakananDalam artikel
Langit7 yang dimuat pada 23 Juli 2021, Sahabat Langit7 juga bisa mengurangi sampah sisa makanan. Adapun langkah yang bisa dilakukan, sebagai berikut:
1. Simpan bahan dan makanan dengan benarSalah menyimpan bahan makanan dapat membuatnya jadi cepat busuk, akhirnya makanan-makanan tersebut berakhir di tempat sampah. Jangan sampai lupa kalau menyisakan makanan dan membiarkannya begitu saja di meja makan semalaman.
Hangatkan makanan sisa sebelum disimpan dalam kulkas atau lemari penyimpanan lainnya. Tentu lebih baik adalah memasak makanan sesuai kebutuhan dan langsung habis disantap tanpa meninggalkan sisa untuk disimpan.
2. Jangan belanja berlebihanBelanja terlalu banyak juga membuat persediaan di rumah jadi berlebihan. Alhasil, makanan tidak bisa disimpan dengan baik karena kapasitas simpan tak mencukupi.
Mulailah bijak dalam berbelanja dengan menyiapkan daftar yang benar-benar diperlukan untuk dimasak. Hindari belanja untuk menyetok persediaan selama beberapa hari terutama pada produk segar seperti buah, sayur, dan daging.
3. Makan sesuai porsiJangan lapar mata saat menyantap makanan. Sesuaikan porsi makan agar makanan bisa disantap habis tanpa sisa.
Ingat, lebih baik menambah daripada membuang. Jika membeli makanan dalam porsi besar, bagilah dengan teman atau anggota keluarga atau sisakan dan simpan dalam porsi kecil untuk dikonsumsi kembali sewaktu-waktu.
4. Membuat komposSisa konsumsi organik dan sisa makanan bisa diolah menjadi pupuk. Selain berguna untuk tanaman, cara ini ternyata cukup ampuh untuk mengurangi sampah sisa makanan yang terbuang dengan percuma.
Sekarang tersedia berbagai tutorial membuat kompos dengan cara dan peralatan sederhana yang bisa diakses kapanpun di internet.
Sahabat bisa mulai dengan membuat kompos dari sisa sayuran, masakan, kopi, atau teh. Sebisa mungkin lakukan pemilahan dan pisah sampah organik dalam wadah pembuangan terpisah dari sampah rumah tangga lain.
(bal)