LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Sofyan Anif menjelaskan
Islam berkemajuan merupakan hal familiar serta bukanlah sesuatu hal yang baru.
“Kalau kita bicara Islam Berkemajuan, pasti arah kita adalah Islam yang Rahmatan Lil’alamin,” kata Sofyan Anif dalam tausiyahnya, tentang "Kekuatan Ilmu menjadi Pilar Islam Berkemajuan" dikutip Senin (1/9).
Dalam kajian itu, Prof Anif juga menceritakan sebuah cerita dalam hadist yang diriwayatkan oleh abu Jafar dan Abdullah bin Masud. Bahwa kata Prof Anif, Rasulullah ketika akan masuk ke masjid didatangi oleh pemuda.
Baca juga: Pandemi Bermetamorfosis Endemik: Peta Jalan Pembelajaran Metaverse "Rasulullah saya sebaiknya ikut majelis yang itu (majelis ilmu) atau itu (majelis dzikir). Kemudian Rasulullah menjawab dengan menunjuk ke majelis ilmu," ungkap Prof Anif.
Lebih lanjut, dia menjelaskan maksud dari jawaban tersebut, yakni bahwa di dalamnya ada proses belajar-mengajar. “Majelis dzikir juga bagus, mereka berharap untuk mendapatkan pahala dari Allah, tetapi apakah diterima atau tidak itu belum tentu," tambahnya.
Menurutnya, hal itu tergantung keikhlasan daripada orang-orang yang sedang berdzikir. Tapi di sini kata Prof Anif, di dalamnya ada proses belajar mengajar.
"Dari yang tahu kepada yang tidak tahu, dari yang sudah punya ilmu kepada yang tidak punya ilmu,” jelasnya.
Lanjutnya, dalam riwayat hadist tersebut Rasulullah diutus Allah semata-mata menjadi guru (mualliman).
Menurutnya, Muhammadiyah sangat berkomitmen terhadap ilmu seperti dengan mendirikan sekolah atau majelis-majelis ilmu. Dia juga menerangkan perbincangan antara Nabi Muhammad dengan pemuda tersebut menjadi dasar bahwa Islam harus memprioritaskan majelis ilmu.
"Jangan sampai melupakan isinya dan lupa mengimplentasikan isi dari Al-Qur'an," terangnya.
Baca juga: DPR Dukung Sekolah Larang Siswa Bawa Lato-latoHal ini kata Prof Anif, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat An-Nisa ayat 9, bahwa menjadi sebuah peringatan untuk tidak sampai meninggalkan generasi yang lemah iman, lemah fisik, dan lemah ilmu.
“Ini tugas kita (orang tua), yang tidak bisa lepas di pundak kita. Membangun generasi, berarti membangun kekuatan Islam ke depan, generasi yang kuat. Bukan yang disindir oleh Allah dalam Surah An-Nisa ayat 9 tadi, meninggalkan generasi lemah,” terangnya.
Prof Anif mengungkapkan, dengan kekuatan ilmu, memberikan modal yang kuat bagi terbentuknya Islam yang berkemajuan, seperti yang telah diimplementasikan oleh Muhammadiyah.
Prof Anif juga menyatakan dengan adanya ilmu, maka ilmu akan menjadi cahaya dan petunjuk, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. "Jangan hanya tadarus saja, tetapi juga harus memahami isi dan mengamalkannya," tuturnya.
(sof)