LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Azhar, Ustadz Abdul Somad (UAS), menegaskan, inti ajaran Islam adalah
tauhid. Tauhid berasal dari kata
Wahhada, Yuwahhidu, Tawhiidan yang berarti menyatukan atau mengesakan.
“Inti ajaran Islam adalah tauhid,” kata UAS dalam kajian online Surgakan Indonesia dengan Al-Qur'an (SIDAQ) yang diikuti Langit7, Selasa (11/1/2023).
Tauhid berarti mengesakan Allah. Hanya menyembah kepada-Nya. Ajaran tersebut untuk melawan tabiat manusia yang selalu ingin memberikan kuasa kepada selain Allah. Ini pula yang menjadi salah satu keutamaan Islam, karena berani mengatakan tidak untuk penyembahan kepada makhluk.
Baca Juga: Sesuatu Menjadi Sia-sia di Hadapan Allah karena Tidak Bertauhid
“Di antara keutamaan Islam adalah berani untuk mengatakan tidak. Berani mengatakan
laa ilaha illallah (tidak ada yang disembah kecuali hanya Allah semata). Ketika sudah berani mengatakan itu, berarti kita sudah berani menafikan yang lain,” ujar UAS.
Nabi Muhammad SAW pun diutus untuk memurnikan tauhid yang sudah rusak kala itu. Masyarakat Arab kala itu mengakui adanya Allah. Mereka yakin bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya. Hanya saja, mereka menyembah berhala sebagai sesembahan yang dianggap bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudharat.
“Orang Quraisy cerdas secara ekonomi dan intelektual, tapi dungu, bodoh, jahil secara spiritual karena masih mempertuhankan selain Allah. maka Islam datang untuk mengesakan Allah,” ungkap UAS.
Di sisi lain, Al-Qur’an sudah menegaskan setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah seperti yang termaktub dalam Surah Ar-Rum ayat 30. Abu Hurairah menafsirkan kata ‘fitrah’ adalah Islam. setiap manusia sudah mengikat perjanjian dengan Allah sebelum lahir ke dunia.
Baca Juga: Menjaga Fitrah Tauhid, Cara Manusia Tetap dalam Ahsanu Taqwim
“Bersyahadatnya kapan? Bersyahadatnya sebelum ditiupkan ke dalam rahim ibunya,” kata UAS.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanya yang akan membuat dia Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Muslim).
Anak yang lahir dari rahim seorang Muslimah, maka besar kemungkinan untuk tumbuh menjadi seorang muslim. Namun, saat lahir dari rahim seorang wanita nonmuslim, maka anak itu sudah diberi akal untuk mencari Islam.
“Mikir. Jadi, dosanya dosa tidak mikir. Allah tidak mengazab seorang manusia sebelum orang itu berakal. Makanya orang gila, orang tidur, bayi belum aqil baligh, pena diangkat tidak mencatat amalnya,” tutur UAS.
Baca Juga: Cara Ajarkan Anak Mengenal Allah SWT lewat Keseharian Mereka
Akal diperuntukkan untuk berfikir. Hati untuk merenung. Ada pula potensi penglihatan, pendengaran, serta hati untuk merasa. Potensi tersebut merupakan perangkat yang telah disediakan oleh Allah untuk manusia agar menemukan Islam.
Maka, orang yang tidak terlahir dari keluarga muslim sudah diberi perangkat lengkap untuk menangkap sinyal Islam. Akal akan selalu mengarahkan kepada fitrah. Tinggal melawan ego dan nafsu agar bisa menerima Islam sebagai petunjuk dan jalan hidup.
“Ini adalah kemurnian pertama dalam ajaran Islam, adalah tauhid. Disebut juga akidah, ada dua tali yang disimpulkan. Seorang hamba terikat perjanjian dengan Khaliq (Allah). Hamba mengakadkan diri dengan asyhadul alla ilaha illallah wa anna muhammadarrasulullah,” ucap UAS.
(jqf)