Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Tanda Seorang Muslim Sudah Siap Menikah

Muhajirin Senin, 23 Januari 2023 - 10:10 WIB
Tanda Seorang Muslim Sudah Siap Menikah
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Apakah aku sudah siap menikah? Pertanyaan ini sebenarnya sudah harus muncul bagi seorang muslim saat berusia 20 tahun ke atas. Meskipun, dalam konsep Islam, orang sudah boleh menikah saat memasuki usia akil baligh.

Penulis sekaligus Founder Edufic & Honorary Research Fellow Univ of Bristol, United Kingdom (UK), Ario Muhammad, menjelaskan, dalam Islam, seorang muslim sudah dikenakan hukuman jika melaksanakan dosa saat berusia baligh. Maka sejatinya, seorang muslim sudah siap menikah saat sudah mencapai usia baligh.

"Tetapi, memang pada perjalanan manusia kita dibentuk bahwa kesiapan mental, pendidikan anak, bahkan perjalanan dalam keluarga hanya mampu menghasilkan anak-anak yang mandiri atau siap menikah di usia 20 tahun ke atas,” kata Ario dalam webinar pranikah yang diadakan Educif, dikutip Senin (23/1/2023).

Baca Juga: Hikmah Islam Larang Seks Bebas: Silsilah Keturunan Jelas

Kesiapan menikah seseorang banyak sekali dipengaruhi oleh faktor pendidikan keluarga dan kultur di tengah masyarakat. Maka itu, orang tua muslim harus membangun mindset untuk mempersiapkan anak-anak mereka menjadi seorang suami dan istri serta ayah dan ibu sejak masih kecil.

“Jika berbicara soal nafsu saja, menikah itu melindungi kita dari hawa nafsu yang membawa kita pada kebermanfaatan. Lebih banyak lagi ayat dalam Al-Qur’an dan hadits yang membicarakan pentingnya menikah. Betapa menjadi sunnah yang sangat penting bagi kita,” ujar Ario.

Menurut Ario, ada tiga aspek penting yang menjadi tanda seseorang sudah siap menikah. Tiga aspek itu di antaranya:

1. Agama

Sebenarnya, jika seseorang sudah memiliki agama yang baik dalam dirinya, maka sudah dipastikan sudah siap menikah. Itu karena agama Islam memiliki panduan hidup terlengkap, mulai dari bangun tidur hingga tata cara tidur pun sudah diatur. Apalagi, masalah-masalah besar seperti pernikahan.

“Dulu para sahabat menikah dengan cara yang mudah, karena dari segi agama sudah lulus. Bagian agama menjadi solid,” ujar Ario.

Baca Juga: Resesi Seks Terjadi di Jepang dan Korsel Akibat Pengabaian Agama

Kesiapan agama ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi tauhid. Tauhid atau keimanan yakni keyakinan yang kokoh tentang konsep takdir dan rezeki. Ini tidak bisa lahir dari melamun, harus disertai dengan kebiasaan-kebiasaan untuk mendekat kepada Allah. Ini menjadi fondasi paling penting, orang yang punya tauhid yang kokoh yakin akan ketentuan dari Allah.

“Yang menjadi masalah, kita itu biasanya tidak yakin dengan ketetapan dan konsep rezeki dan takdir yang sudah Allah atur,” kata Ario.

Kedua, amal. Amal tidak mesti sempurna, tapi kita punya amalan-amalan unggulan yang menguatkan kita. Jangan mengharapkan calon pasanganmu yang akan mengubahmu. Maka itu, sangat penting memilih pasangan yang memiliki basic agama yang kuat. Agama menjadi pondasi utama dalam kesiapan kita untuk menghadapi pernikahan.

Ada banyak tanda seseorang memiliki agama yang bagus. Di antaranya, iman dan amal itu satu paket. Tapi, iman itu sifatnya rahasia. Hanya Allah yang bisa mengukur derajat iman seseorang. Namun, iman dan amal seharusnya saling terhubung. Untuk itu, sisi zahir kebagusan iman seseorang dilihat dari amalnya, termasuk akhlak dan lingkungan.

“Jadikan, perhatikan akhlaknya. Akhlak dan lingkungan sangat penting. Paling mudah, lihat siapa temannya,” ucap Ario.

Baca Juga: Keluarga Minta Mahar Mahal, Begini Cara Mengatasinya

Akan tetapi, pengetahuan agama tidak selalu menjamin. Imam Abu Abdillah, salah satu pakar sastra Arab, pernah mengatakan:

"Janganlah kalian tertipu dengan shalat dan puasa mereka. Sesungguhnya, mungkin ada seseorang yang mengerjakan shalat dan puasa sampai-sampai seandainya ia meninggalkannya, ia merasa takut. Tetapi, amatilah mereka dalam kebenaran bicara dan penunaian amanat.”

“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu).” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim Al-Mazni)

2. Kesiapan Karakter

Kesiapan karakter ini sangat penting. Ada banyak hal yang harus dievaluasi dalam diri sendiri untuk mengukur kesiapan karakter ini. Pertama, komitmen. Harus ada komitmen kuat dalam diri sendiri sebelum melangkah ke tangga pernikahan.

“Kamu siap untuk berkomitmen? punya kebiasaan main perempuan sebelum nikah? Kebiasaan selingkuh? Kebiasaan-kebiasaan ini yang tidak bisa sembuh satu dua hari. Itu tidak akan hilang kecuali ada kemauan kuat untuk berubah. Makanya, kalau sudah siap berkomitmen, itu tandanya belum siap menikah,” kata Ario.

Kedua, mengetahui diri sendiri. Mengenal diri sendiri berarti menggali ke dalam jiwa dan menanamkan value sebagai bekal dalam pernikahan. Maka, penting sekali mendidik anak-anak yang punya value terhadap diri mereka sendiri. Ini ditumbuhkan dengan membangun kepercayaan diri anak, sehingga tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka punya ‘sesuatu’ yang penting untuk hidup di dunia ini.

Baca Juga: Mahar Tidak Harus Mahal, Asal Bernilai dan Bermanfaat

“Seperti skill, atau sesuatu secara natural yang dianugerahkan kepada mereka. ini akan muncul kalau tahu diri sendiri,” ujar Ario.

Menurut Ario, sangat berbahaya jika ada orang buru-buru menikah tapi tidak mengenal dirinya sendiri. Mengetahui diri sendiri bisa mengenal apa yang membuat emosi, hal yang memancing emosi, dan cara menyelesaikan masalah saat emosi.

“Kalau kalian tidak kenal diri sendiri, apalagi benci, maka saran saya jangan dulu menikah. Sembuhkan dulu diri kalian,” tutur Ario.

Ketiga, seseorang bisa membahagiakan atau mendukung dirimu sendiri. Anak-anak itu harus dididik untuk punya kemampuan untuk mendukung diri sendiri. Termasuk finansial. Ketika sejak muda punya kemampuan finansial, maka punya opsi untuk mendukung dan membahagiakan diri sendiri.

Keempat, punya ekspektasi pernikahan yang realistis. Seseorang tidak menikah dengan seorang pangeran berkuda, yang datang membawa harta tujuh turunan. Pernikahan itu sebuah pintu amal baru yang tantangannya luar biasa. Tapi di saat bersamaan, tidak cuma pahala besar yang didapatkan, tapi juga kebahagiaannya juga berbeda.

“Kalau akan menghantam berbagai macam tantangan yang akan mendewasakan kalian, dan membuat kalian lebih bahagia,” ungkap Ario.

Baca Juga: Tips Rumah Tangga Harmonis, Saling Jaga Ego Masing-Masing

Keempat, mengetahui tujuan besar dalam hidup. Misalnya, ingin jadi rumah tangga untuk mendidik anak-anak berkualitas. Jadi, pemilihan calon itu mengikuti tujuan hidup pribadi. Bukan sebaliknya, menyesuaikan hidup berdasarkan calon pasangan.

Kelima, mengetahui hal-hal penting dalam hidup. Misalnya, tahu hal apa yang membuat bahagia dan sedih. Memahami ketertarikan dan kebencian terhadap sesuatu.

“Jadi, kita sudah tahu sebenarnya. Kalau kita mau bahagia, kita ngapain. Pada momen apa kita sedih. Kalau ini saja belum tahu, ini bahaya sebenarnya,” ungkap Ario.

Keenam, harus mengetahui apa yag membuat deal breaker dalam pernikahan. Artinya, tahu apa yang membuat hubungan pernikahan itu putus atau cerai. Deal breaker itu bisa dalam bentuk perjanjian pranikah, seperti tidak boleh ada perselingkuhan dan lain-lain.

“Tetapi, tetap punya fleksibilitas. Pernikahan itu adalah sebuah penyesuaian. Kita menerima seseorang dengan fleksibilitas,” ujar Ario.

Lalu, bagaimana melihat kesiapan karakter ini? seseorang harus mengakses dan mengevaluasi diri sendiri. Bisa bertanya orang-orang terdekat, bahkan datang ke orang ke profesional. Lalu, tentukan karakter pasangan yang tepat. Jadi, memilih pasangan berdasarkan rasionalitas, bukan feeling atau perasaan. Itu jauh lebih menyenangkan ketimbang terbawa cinta duluan.

Baca Juga: Amalan untuk Pasangan yang Bertahun-tahun Belum Punya Keturunan

“Memang, enaknya feeling dan rasional ini berjalan secara bersamaan. Tapi, bagaimana jika tidak, maka utamakan rasionalitasnya. Kalian akan memahami bahwa cinta itu akan tumbuh ketika dua orang ini bisa saling melengkapi satu sama lain,” ungkap Ario.

3. Kesiapan Finansial

Setelah agama dan karakter beres, baru membicarakan masalah finansial. Menikah itu ibadah. Yang Namanya ibadah, Allah tidak akan mempersulit hamba-Nya. Tidak mungkin. Makanya, finansial di urutan ketiga.

Pertama, harusnya sudah bisa mandiri sejak memasuki usia taklif. Kedua, ketika datang pinangan, perhatikan apakah calon suami anda sudah mandiri. Kalau tidak, apakah calon suami anda selama ini telah berusaha mandiri dan mempunyai I’tikad untuk mandiri.

“Jadi, idealnya, laki-laki itu punya kemandirian finansial, yang secara jumlah cukup untuk hidup. Kalaupun tidak ada, calon itu sudah kelihatan tanda-tanda proyeksi kemandirian finansial,” tutur Ario.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)