LANGIT7.ID, Jakarta - Sikap Islamophobia
Rasmus Paludan dengan membakar kitab suci Al Quran dengan dalih kebebasan berekspresi dinilai aneh dan terlalu mengada-ada.
Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI Ahmad Doli Kurnia Tanjung mengimbau agar umat islam menggalang solidaritas karena Rasmus Paludan telah berkali-kali melakukan pelecehan atas kesucian Al Quran.
Dia mengatakan, ini adalah aksi Paludan yang kesekian kalinya sejak tahun 2019, 2020, 2021, 2022 dan 2023. Dalam aksinya di Brussel tahun 2020, Paludan bahkan membungkus daging babi menggunakan mushaf Al Quran.
"Jika aksi pembakaran Al-Qur'an tahun 2023 sebagai protes terhadap Turki yang menolak Swedia masuk organisasi NATO, mengapa Al Quran yang merupakan kitab suci umat Islam yang dibakar?. Dari rekam jejak aksi-aksinya, jelas bahwa Rasmus Paludan adalah ekstremis radikal anti Islam," katanya dikutip Kamis (26/1/2022).
PBB: Pembakaran Al-Qur'an Bukan Kebebasan BerekspresiSikap Islamophobia Rasmus Paludan sengaja membonceng kebebasan berekspresi dan menggunakan isu penolakan Rusia atas Swedia masuk NATO dengan mengkambinghitamkan Al Quran.
Ahmad Doli menilai dalih kebebasan berekspresi dengan melakukan pelecehan terhadap kitab suci agama lain adalah hal yang mengada-ada
"Ironisnya kebebasan ekspresi yang digunakannya melebihi norma kepatutan dan melanggar hak-hak asasi berekspresi itu sendiri," katanya.
Dia mengatakan Paludan telah melakukan penghinaan (
blasphemous) terhadap umat Islam sedunia.
"KAHMI sepakat dengan para pemimpin dunia Islam dan pemimpin agama Kristen dan Katolik di dunia bahwa tindakan
Paludan telah melukai perasaan semua penganut agama di dunia," katanya.
Baca juga: Astagfirullah, Politisi Belanda Robek, Injak, dan Bakar Al QuranKAHMI berpandangan bahwa dunia perlu mendefinsikan kembali kebebasan berekspresi dan memasukkan aksi vandalisme yang menohok kesucian agama sebagai radikalisme dan ekstremisme anti-Tuhan.
"KAHMI meminta pemerintah Swedia mengambil langkah-langkah tegas dan konkrit terhadap
Rasmus Paludan berupa pelarangan dan pembubaran partai Stram Krus karena berpotensi menimbulkan distabilitas di seluruh dunia," katanya seperti dilansir Antara.
(sof)