LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI,
Nurul Arifin mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam merespons kasus pembakaran Al-Qur'an di Swedia. Kasus tersebut dinilai sangat sensitif dan dapat memicu tindakan provokatif.
"Kita harus hati-hati ya karena mungkin tindakan provokasi kita tidak tahu. Jadi jangan terlalu cepat untuk bereaksi begitu," ujar Nurul dalam keterangannya, Selasa (31/1/2023).
Politikus Partai Golkar itu mengatakan perlunya sikap hati-hati dalam merespons kasus tersebut. Hal tersebut agar Indonesia tidak jatuh dalam kepentingan yang dimainkan oleh oknum-oknum tertentu.
Baca Juga: Belum Pernah Sekalipun Umat Islam Bakar Kitab Suci Agama LainTerlebih, Nurul menilai masyarakat Indonesia dan tokoh-tokoh publik saat ini memilih sikap yang tidak begitu reaktif terkait kasus
pembakaran Al-Qur'an.
"Jadi jangan sampai ada tindakan-tindakan yang sifatnya memprovokasi begitu, kemudian ditangkap secara mentah-mentah sehingga membuat aksi provokasi itu membuat kita terperangkap dalam kepentingan mereka," kata Nurul.
Seperti diketahui, Politisi Sayap Kanan Swedia-Denmark sekaligus Pemimpin Partai Stram Kurs,
Rasmus Paludan, membakar sebuah Al-Qur'an di depan kantor Duta Besar Turki di Swedia. Tindakan yang dilakukan Rasmus disebut atas izin pemerintah dan di bawah perlindungan polisi.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memanggil Duta Besar Swedia di Jakarta. Kemlu melalui Jubir Teuku Faizasyah menyebut komunikasi ke pihak Dubes Swedia telah dilakukan sejak awal.
Baca Juga:
Respons Kedubes Swedia Soal Pembakaran Al-Quran Rasmus Paludan
Aktivis Politik Serukan Anak Muda Boikot Produk Swedia(gar)