LANGIT7.ID - , Jakarta - Tenaga Ahli Menteri Agama Hasanuddin Ali menawarkan tiga strategi untuk mengakselerasi penguatan
moderasi beragama. Hal tersebut disampaikan sebagai bentuk keprihatinan dengan isu inteloransi dan
politik identitas yang dihadapi Kementerian Agama.
Disrupsi digital dan berkembangnya narasi beragama yang eksklusif dan ekstrem media massa mainstream dan media online disebut menjadi faktor munculnya isu intoleransi dan politik identitas. Di mana dua isu tersebut berpotensi merenggangkan
kerukunan umat beragama. Baca juga: Wamenag: Konsep Khairu Ummah Sejalan dengan Moderasi Beragama"Saat ini marak umat beragama yang belajar agama secara instan lewat dunia digital, serta banyak munculnya penceramah agama yang tidak memiliki kapasitas keagamaan lalu dijadikan panutan oleh publik di dunia digital," ujar Hasanuddin, dikutip dari laman Kemenag, Senin (6/2/2023).
Menurut Hasanuddin, pemahamanan keagamaan dosen tidak menyerap ke mahasiswa, yang mendapat pemahamannya melalui konten digital.
"Transmisi paham keagamaan yang dipahami oleh dosen tidak merembes ke mahasiswa, karena pemahaman keagamaan mahasiswa lebih banyak masuk melalui konten-konten digital. Satu-satunya cara untuk bisa masuk ke anak-anak muda adalah selalu hadir di semua kanal media," ujar Hasanuddin.
Tiga strategi yang dinilai dapat menjadi solusi untuk mengakselerasi penguatan moderasi beragama, yaitu:
Baca juga: Konferensi Islam ASEAN: Bahas Moderasi Beragama dan Pencegahan Ekstremisme1. Mengembangkan ekosistem Kemenag Muda dengan platform "creative lab" yang memungkinkan generasi muda Kemenag mengaktualisasikan ide dan gagasannya,
2. Menguasai narasi dunia digital dengan mengoptimalkan sinergi dan jejaring media internal dalam memproduksi konten dan yang ramah generasi muda (Gen Z dan Milenial),
3. Memperkuat semangat One Institution Mentality dengan program-program kolaborasi antar Direktorat Jenderal dan satuan kerja di bawahnya.
(est)