LANGIT7.ID, Jakarta - Majalah Prancis Charlie Hebdo mendapat kecaman setelah menerbitkan kartun yang mengolok-olok
gempa M7,8 Turki-Suriah. Charlie Hebdo selama ini memang dikenal dengan kartun satir yang rasis dan tidak sensitif.
Majalah tersebut membagikan ‘Kartun Hari ini” di Twitter hanya beberapa jam setelah berkekuatan M7,8 terjadi di Turki pada Senin (6/2/2023). Kartun yang dibuat Pierrick Juin itu memperlihatkan bangunan yang rusak, mobil yang terguling, dan bukit-bukit puing bertuliskan, “Gempa bumi di Turki, Tidak perlu mengirim tank”.
Seorang pengguna twitter Sara Assaf mengecam keras kartun tersebut. Tak sampai di situ, Sara menarik dukungan dari majalah tersebut. “
Je ne suis plus Charlie” (Saya bukan lagi Charlie), tulisnya, mengacu pada slogan “
Je suis Charlie” (Saya Charlie) yang diadopsi oleh pendukung majalah tersebut setelah serangan 7 Januari 2015 di kantor mereka.
Baca Juga: Kisah Emosional Tim Penyelamat Gempa Turki saat Evakuasi Gadis Cilik
Cendekiawan Muslim Amerika Serikat, Imam Omar Suleiman, juga menyampaikan kecaman terhadap kartun tersebut. Dia menilai, kartun tersebut mengejek ribuan muslim yang menjadi korban gempa bumi di Turki.
“Mengejek kematian ribuan Muslim adalah puncak dari bagaimana Prancis telah merendahkan kita dalam segala hal,” kata Omar.
Seorang analis politik asal Turki, Öznur Küçüker Sirene, turut menyampaikan kecaman terhadap kartun tersebut. Dia mengatakan, banyak orang Turki sebenarnya adalah pembaca Charlie Hebdo, tapi telah dilukai dengan kartun tersebut.
Baca Juga: Bocah 9 Tahun Sedekah Uang Celengan untuk Korban Gempa Turki
“Bahkan orang Turki adalah 'Charlie Hebdo' untuk berbagi kesedihan Anda dan hari ini Anda berani mengejek penderitaan seluruh rakyat. Seseorang harus benar-benar berani melakukan ini sementara masih ada bayi yang menunggu untuk diselamatkan di bawah reruntuhan,” katanya di twitter.
(jqf)