LANGIT7.ID - , Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (
BMKG) memperkirakan Indonesia akan mengalami fenomena
hari tanpa bayangan atau kulminasi sebanyak dua kali di tahun ini.
Melalui keterangan resmi, BMKG menyebut kulminasi atau transit atau istiwa' adalah
fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit.
Baca juga: Fenomena Super New Moon Januari 2023, Waspada Potensi Banjir Rob"Saat deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai Kulminasi Utama," bunyi keterangan tersebut, dikutip Senin (13/2/2023).
BMKG menjelaskan, di saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang" sekitar 30 detik sesudah dan sebelum waktu puncak di masing-masing wilayah, karena bertumpuk dengan benda itu sendiri.
"Tahun ini, Matahari tepat berada di khatulistiwa pada 21 Maret 2023 pukul 04.24 WIB dan 23 September 2023 pukul 13.50 WIB. Adapun pada 21 Juni 2023 pukul 21.57 WIB, Matahari berada di titik balik Utara dan pada 22 Desember 2023 pukul 10.27 WIB Matahari berada di titik balik Selatan," tulis BMKG.
Baca juga: Tak Hanya Bukit Menghijau, Ini Fenomena Alam Tak Biasa di Arab SaudiBMKG memastikan Indonesia akan mengalami fenomena tersebut sebanyak dua kali dalam tahun ini.
"Mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat Matahari berada di khatulistiwa," katanya.
Khusus Jakarta Pusat, akan mengalami hari tanpa bayangan pada 5 Maret 2023 pukul 12.04 WIB dan 9 Oktober 2023 pukul 11.40 WIB.
"Secara umum, kulminasi utama tahun 2023 di Indonesia terjadi antara 21 Februari 2023 di Baa, Nusa Tenggara Timur hingga 5 April 2023 di Sabang, Aceh dan 8 September 2023 di Sabang, Aceh sampai dengan 21 Oktober 2023 di Baa, Nusa Tenggara Timur," ungkap BMKG.
Baca juga: Fenomena Astronomi, Komet Langka Melintasi Bumi pada Februari 2023(est)