LANGIT7.ID, Jakarta - Sebuah tim bawah tanah yang dipimpin mantan anggota pasukan khusus Israel menggunakan media sosial untuk memengaruhi
pemilu di 30 negara. 'Operasi hitam' tersebut sudah dilakukan selama dua dekade terakhir.
Berdasarkan investigasi
The Guardian, tim tersebut dinamai Tim Jorge, semua tim yang menjalankan layanan secara diam-diam untuk ikut campur dalam pemilu di sebuah negara. Ironisnya, mereka bisa beraksi tanpa jejak. Selain pemilu, tim ini juga menyediakan jasa untuk klien korporat.
Seorang narasumber yang berhasil diwawancarai bernama Hanan (nama samaran). Dia menyebut operasi tersebut “operasi hitam”. Layanan tersebut tersedia untuk badan intelijen, kampanye politik, dan perusahaan swasta yang ingin memanipulasi opini publik secara diam-diam. Layanan mereka sudah digunakan di seluruh Afrika, Amerika Selatan dan Tengah, serta Eropa.
Baca Juga: Gempa Berdampak pada Pemilu Turki, Posisi Erdogan TerancamSalah satu layanan utama Tim Jorge adalah paket perangkat lunak canggih bernama
Advanced Impact Media Solutions (Aims). Perangkat tersebut bisa mengontrol ribuan profil media sosial palsu di Twitter, LinkedIn, Facebook, Telegram, Gmail, Instagram, dan YouTube. Beberapa avatar bahkan memiliki akun Amazon dengan kartu kredit, dompet bitcoin, dan akun Airbnb.
Dalam investigasi tersebut,
The Guardian mencontohkan satu akun palsu di Twitter dengan nama user “Canaelan”. Akun itu terlihat biasa saja dan sudah men-tweet berbagai hal seperti bola basket, klub sepakbola Tottenham Hotspur, hingga harga makanan kecil, KitKat.
Profil akun itu memperlihatkan seorang pria berambut pirang yang tampak ramah dengan janggut dan kacamata pendek. Gambar profil diberi latar belakang burung hantu yang berkedip untuk menambah kesan asli.
Baca Juga: 5 Masalah Politik Penyebab Demokrasi Indonesia Makin MerosotNamun, Canaelan sebenarnya adalah robot yang terkait dengan ribuan akun palsu di media sosial. Akun-akun itu dikelola Aims untuk merancang dan menyebarkan propaganda. Aims bahkan mengontrol lebih dari 30 ribu profil media sosial palsu, dan bisa digunakan menyebarkan disinformasi dalam skala besar dan cepat.
“Akun tersebut dijual oleh "Team Jorge", sebuah unit operasi disinformasi yang berbasis di Israel,” tulis laporan investigasi
The Guardian, dikutip Rabu (15/2/2023).
The Guardian melakukan penelusuran akun-akun palsu tersebut di internet. Dia menyebut ada sekitar 2.000 bot terkait Aims di Facebook dan Twitter. Mereka sudah terlibat di banyak negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Swiss, Yunani, Panama, Senegal, Meksiko, Maroko, India, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Zimbabwe, Belarus, dan Ekuador.
Baca Juga: Megawati Isyaratkan Capres dari Internal, Begini Respons GanjarAims juga memiliki kelompok avatar dengan dari berbagai negara dan bahasa. Mereka telah memanipulasi opini dalam bahasa Rusia, Spanyol, Prancis, dan Jepang.
Menanggapi hasil investigasi The Guardian tersebut, Twitter masih menolak untuk berkomentar. Sementara, Meta pada Selasa (14/2/2023), menghubungkan bot Aims ke bot lain yang ditautkan pada 2019 ke perusahaan Israel lain yang sekarang sudah tidak beroperasi.
"Aktivitas terbaru ini merupakan upaya beberapa individu yang sama untuk kembali dan kami menghapus mereka karena melanggar kebijakan kami. Aktivitas terbaru kelompok tersebut tampaknya berpusat pada menjalankan petisi palsu di internet atau menyebarkan cerita palsu di media arus utama,” kata jurub bicara tersebut.
Baca Juga: Mahfud MD: Selama Era Reformasi, Pemilu Masih CurangSalah satu bot Twitter yang terlibat dalam kampanye di Inggris bersama Canaelan adalah "Alexander". Akun Alexander memiliki foto profil seorang pria muda dengan janggut terpahat dengan topi beanie putih. Latar belakang: tulip jingga di samping slogan ceria “Berbahagialah”.
Bio profil Alexander terdiri dari dua kalimat pendek yang mengisyaratkan minat pada kebohongan: “Perbedaan antara fiksi dan kenyataan?’ Fiksi harus masuk akal.”
(jqf)