LANGIT7.ID, Jakarta - Penulis dan Aktivis Perempuan, Kalis Mardiasih, meminta para orang tua dan pendidik untuk memberikan perhatian serius terhadap
bullying atau perundungan.
Bully memiliki dampak negatif bagi perkembangan seorang anak. Kalis mencontohkan kasus bocah SD di Banyuwangi yang bunuh diri karena tahan di-
bully.
Korban berinisial MR (11 tahun) sering pulang dalam keadaan murung. Menurut sang ibu, dia sering di-
bully oleh teman-teman di sekolah karena yatim atau tidak punya ayah.
Baca Juga: Penyebab Perundungan Masih Terjadi di Lembaga Pendidikan
“Anak-anak yang menjadi perundung/
bully seringkali disederhanakan menjadi ‘ah, namanya juga anak-anak, nggak beneran serius kok’ atau ‘begitulah anak-anak bergaul’, dianggap enggak ada intensi khusus. Faktanya
bullying tidak hanya terjadi sekali dan bukan kesepakatan dua belah pihak,” kata Kalis melalui akun Twitter-nya, dikutip Jumat (3/3/2023).
Kalis menjelaskan,
bullying adalah bentuk tindakan agresi atau serangan ke orang lain, bersifat berulang-ulang, dan memiliki tujuan negatif atau buruk kepada orang lain. Bullying pada anak-anak bukan pengalaman normal anak-anak.
“Korban
bully ditarget dan dampaknya jangka panjang,” ujar Kalis
Kalis menguraikan tiga bentuk
bullying yang sering terjadi di lingkungan anak-anak. Pertama,
bullying fisik, bertujuan menyakiti fisik korban.
Bullying verbal, tertulis atau ucapan, bertujuan untuk menyakiti korban lewat kata-kata.
“
Bullying sosial: mengucilkan korban, membuat gosip tentang korban, menyembunyikan informasi dari korban. Semua bertujuan. Bukan keisengan,” ungkap Kalis.
Baca Juga: Waspada Cyberbullying pada Anak, Pahami dan Atasi Segera
Fakta menyedihkan, kata Kalis, kebanyakan survey yang dilakukan periset pendidikan, sebagian besar
bullying dialami anak-anak di sekolah. Efek perundungan di sekolah adalah anak kehilangan minat dalam bergaul di sekolah, kesepian, kehilangan
self esteem, gejala depresi, sampai dorongan bunuh diri.
“Menurut
UK bullying expert, Elizabeth Nassem, bullying pada anak-anak disebabkan karena kebutuhan dasar untuk mendapat pengakuan, perhatian, dan penerimaan. Alias, cara salah untuk dapat popularitas di pertemanan, dengan membuat orang lain (korban) terlihat lebih rendah,” ungkap Kalis.
(jqf)