LANGIT7.ID, Jakarta - Perilaku intimidasi atau
mem-bully seringkali dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar akan pengakuan, perhatian, dan persetujuan. Cara ini adalah upaya yang salah arah untuk meningkatkan popularitas dengan membuat orang lain terlihat kecil.
Pakar di bidang
bullying Inggris, Elizabeth Nassem, mengatakan, jika anak-anak populer, mereka bisa mencapai rasa hormat, pengaruh, kekaguman dan kepemimpinan dari teman-temannya. Sayangnya, mereka mengorbankan anak-anak lain.
“Alasan lain anak muda menjadi pelaku intimidasi adalah karena mereka telah dianiaya, mengalami rasa malu, atau diintimidasi oleh teman sebaya, orang tua, atau saudara kandung. Mereka menggertak orang lain sebagai upaya untuk membalas dendam dan mendapatkan kembali rasa harga diri,” kata Elizabeth, dikutip laman
The Conversation, Jumat (3/3/2023).
Baca Juga: Anak SD Bunuh Diri karena Dibully, Perundung Jangan Dianggap SepeleAda pula alasan sistemik mengapa anak muda melakukan
bully. Bisa karena sekolah yang tidak mengawasi siswa secara memadai, juga memiliki praktik atau kebijakan yang mengecualikan anak muda dengan beragam kebutuhan. Hal itu dapat berkontribusi terhadap intimidasi.
“Ketika sistem mengecualikan atau mempermalukan anak muda, anak muda di dalam sistem lebih cenderung melakukan hal yang sama,” ujar Elizabeth.
Bullying Bisa Dilakukan Secara Terbuka dan TersembunyiBullying dapat dilakukan secara terbuka dengan tindakan yang dapat diamati seperti menendang atau menyebut nama, atau bisa juga terselubung yang lebih tersembunyi dan bisa berupa bisikan, pengucilan, dan rumor.
Baca Juga: Waspada Cyberbullying pada Anak, Pahami dan Atasi SegeraDalam hal ini, siswa laki-laki maupun perempuan kemungkina besar pernah mengalami
bullying dan cenderung pernah melakukan
bully. Anak-anak laki-laki lebih cenderung melakukan
bully secara terbuka. Sedangkan, perempuan lebih cenderung terlibat dalam
bully secara tersembunyi melalui perilaku sosial dan dunia maya.
Survei
Mission Australia 2019 menemukan 21% anak muda berusia 15–19 tahun melaporkan perundungan dalam 12 bulan terakhir. Dari mereka yang pernah di-bully, hampir 80% mengatakan bahwa bullying terjadi di sekolah.
Lebih dari 70% mengatakan
bullying itu verbal, 61% mengatakan itu sosial, 36,5% mengatakan itu
cyberbullying dan sekitar 20% mengatakan itu fisik.
Baca Juga: Kisah Ramla Ali dari Pengungsi Somalia, Korban Bullying, hingga Atlet TinjuAda sedikit data konkret tentang pengalaman
bully anak-anak yang lebih muda. Salah satu alasannya adalah mereka cenderung melaporkan perilaku yang tidak dapat didefinisikan sebagai intimidasi. Misalnya, seorang anak kecil mungkin percaya bahwa mereka sedang diintimidasi jika seseorang tidak mau bermain dengan mereka.
“Penindasan dalam kelompok usia ini juga dapat dilihat oleh beberapa peneliti dan pendidik dengan kurang perhatian karena dapat disalah artikan sebagai bagian ‘normal’ dari masa kanak-kanak,” demikian menurut survei tersebut.
(jqf)