LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah,
Buya Yahya menjelaskan, salah satu nikmat agung dan kasih sayang yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah privasi.
“Niscaya tidak akan ada orang senang duduk dengan sahabat, saudara, kalau bukan karena Allah menutup aib kita. Ini tanda kasih sayang Allah dan nikmat Allah yang sangat besar,” kata Buya Yahya saat menyampaikan kajian, dikutip Senin (20/3/2023).
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Baca Juga: Tanda Sudah Siap Sambut Ramadhan, Dzahir dan Batin Bersih"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS An-Nur: 19)
Menukil Kitab
An-Nahju Al-Asmaa’ fi Syarhi Asmaillahil dijelaskan, di antara nama Allah adalah
As-Sittiir. Nama ini terdapat penetapannya dalam hadits yang sahih, dikisahkan oleh sahabat Ya’la bin Umayyah RA:
“Rasulullah SAW melihat seseorang mandi di tempat terbuka tanpa mengenakan kain penutup. Beliau pun naik mimbar, lalu memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Hayiyun (Yang Mahamalu),
Sittir (Yang Maha Menutupi). Allah mencintai sifat malu dan sifat menutupi. Jika seseorang di antara kalian mandi, maka hendaklah dia menutupi dirinya dari pandangan orang lain.” (HR Abu Dawud, shahih).
Baca Juga: Solusi Buat Pekerja Proyek agar Bisa Tepat Waktu Salat BerjamaahA-Baihaqi menjelaskan, menjelaskan, Allah
As-Sittiir adalah Dia banyak menutupi aib hamba-hamba-Nya dan tidak menampakkannya di hadapan manusia lain. Demikian pula, Allah Ta’ala menyukai para hamba yang menutup aib mereka sendiri dan meninggalkan hal-hal yang menghinakan dirinya sendiri.
Ibnu Qayyim juga menjelaskan makna
As-Sittiir dalam bait-bait
Nuniyyah-nya: “Dan Dialah
Al-Hayiyy, Dia tidak akan membuka aib hamba-Nya saat hamba tersebut terang-terangan dalam bermaksiat. Namun, Dia justru melemparkan tirai penutupnya, dan Dialah
As-Sittiir dan mampu memberikan ampunan.
Oleh karena itu, orang yang mengaku berislam tidak pantas mengumbar aibnya sendiri di ruang publik. Atas dasar itu pula, Buya Yahya meminta setiap umat Islam menjaga privasi agar bisa hidup berdampingan dengan nyaman.
Baca Juga: Hikmah Larangan Mencabut Rumput di Atas Makam“Allah sudah menutup aib kita itu, yuk kita pandai-pandai menjaga, menutup aib. Kalau semua yang terjadi pada kita dibuka dibongkar, kepada tetangga kita, mungkin tetangga kita enggak mau bersamaan dengan kita,” tutur Buya Yahya.
(jqf)