LANGIT7.ID, Jakarta - Ziarah kubur menjelang
Ramadhan sudah menjadi tradisi kebanyakan masyarakat Indonesia. Tak jarang, saat berhadapan dengan makam orang yang diziarahi, peziarah bingung hendak membaca apa.
Ziarah kubur merupakan tradisi yang dilakukan dengan mengunjungi makam orang yang sudah meninggal dunia. Biasanya, yang dikunjungi adalah makam orang tua yang sudah tiada. Berikut ini doa ziarah kubur sesuai tuntunan Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar, dikutip dari laman MUI:
Pertama, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, orang yang berziarah kubur dianjurkan mengucap salam terlebih dahulu ketika memasuki kompleks pemakaman. Adapun lafadz salam berbeda dengan salam pada umumnya.
Baca Juga: Pemerintah Qatar Tetapkan Waktu Kerja Cuma 5 Jam Selama Ramadhanالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ…
“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni (kuburan) dari kaum mukminin. Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian niscaya akan kalian dapati esok (pada hari kiamat), dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.” (HR Muslim No.1618)
Kedua, Imam an-Nawawi menganjurkan orang yang berziarah ke makam untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan mendoakan ahli kubur.
Baca Juga: Manfaat Puasa Bagi Kesehatan, Bersihkan Tubuh dari Zat Berbahayaويُستحب للزائر الإِكثار من قراءة القرآن والذكر، والدعاء لأهل تلك المقبرة وسائر الموتى والمسلمين أجمعين
“Para peziarah dianjurkan memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan doa untuk para ahli kubur, semua orang yang telah meninggal dunia, dan umat Islam secara keseluruhan.” (Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar, hal. 168)
Biasanya saat berziarah masyarakat melantukan Surah Al-Fatihah, Al-Baqarah ayat 1-5, ayat 163, ayat kursi, Al-Baqarah ayat 248 sampai 286. Kemudian, dilanjutkan dengan Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-nas. Lalu, memperbanyak dzikir seperti membaca istighfar dan tahlil. Setelah itu, dilanjutkan dengan doa untuk orang meninggal seperti halnya mendoakan jenazah ketika mensalatinya:
Baca Juga: Euforia Sambut Ramadhan di Pesantren Tahfidz Fathan Mubiinaاللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِههِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih dari keluarganya (di dunia), istri yang lebih baik dari istrinya. Dan jagalah ia dari fitnah kubur dan azab neraka.” (HR Muslim No.963)
(jqf)