LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Menjelang Ramadhan, masyarakat Islam di Indonesia kerap melakukan
ziarah kubur. Umumnya mereka berziarah ke makam keluarga, seperti orang tua, pasangan, atau sanak saudara.
Dalam Islam, ziarah kubur merupakan salah satu
amalan yang dianjurkan. Selain mendoakan mendiang,
ziarah kubur juga bertujuan sebagai pengingat akan kematian dan kehidupan akhirat.
Baca juga: Ziarah Kubur Menurut Nadlatul Ulama: Tidak Ada Perintah dan LaranganHadis Bukhari, Muslim, dan Al-Turmudzi yang diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah Saw bersabda, "Sering berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada mau".
Nabi Muhammad SAW memberikan teladan dalam berziarah kubur, termasuk membekali umatnya dengan tuntunan
adab yang sesuai
syariat.
Berikut adalah panduan tata cara ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah.
1. Mengucapkan salam saat memasuki area pemakamanDoa berikut ini disunnahkan untuk dibaca sesaat setelah Anda memasuki area tempat pemakaman.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كُلَّمَا كَانَتْ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ آخِرَ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ, فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ, وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ, غَدًا مُؤَجَّلُونَ, وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ , اللهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ. [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tiap malam gilirannya, pergi ke Baqi’ pada akhir malam, dengan ucapannya:
“Assalamu’alaikum dara qaumin mukminin wa atakum ma tu‘aduna ghadan muajjalun, wa inna insya Allahu bikum lahiqun. Allahummaghfir li ahli Baqi’il Gharqad” (Semoga keselamatan bagi kamu sekalian wahai negeri kaum yang beriman, dan akan datang apa yang dijanjikan kepada kamu sekalian dengan segera. Dan sesungguhnya kami, dengan izin Allah akan menyusul kamu sekalian. Yaa Allah ampunilah penghuni Baqi’ al-Gharqad (nama kuburan)”.” [HR. Muslim]
Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadan Menurut Muhammadiyah2. Tidak duduk di atas makam عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تُحَرِّقَ ثِيَابَهُ, وَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ, خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْر. [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sungguh seseorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya hingga tembus ke kulitnya, itu lebih baik baginya dari pada duduk di atas kuburan.” [HR. Muslim]
3. Berdoa dengan menghadap kiblat saat berada di makam seseorang Saat mendoakan mayat, boleh untuk mengangkat tangan. Menghadap kiblat dan tidak menghadap kuburnya.
لِحَدِيْثِ البَرَاءِ اَنَّهُ جَلَسَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ لَمَّا خَرَجَ اِلَي المَقْبَرَةِ. [رواه ابو داود]
Artinya: “Menilik hadis Bara’ bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk menghadap qiblat ketika pergi berziarah kubur” [HR. Abu Dawud]
Baca juga: Ziarah Kubur Menurut Salafi: Beda yang Disyari’atkan, yang Bid'ah, dan Syirik(est)