LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Rasulullah SAW merupakan manusia terbaik yang pernah ada di muka bumi. Beliau diutus sebagai uswatun hasanah yang berahlak Al-Qur’an.
Al-Qur’an pun telah menggambarkan karakter atau kepribadian Rasulullah SAW. Seperti yang termaktub dalam Surah Thaha ayat 25-28. Ayat tersebut menjelaskan status dan keadan hati baginda Nabi Muhammad SAW.
Dalam kandungan ayat tersebut, setidaknya ada tiga karakter dasar hati Rasulullah SAW, di antaranya:
Hati Rasulullah adalah Hati yang Paling Lembut
Rasulullah SAW merupakan sosok yang hamba yang memiliki hati paling lembut di muka bumi. Hal tersebut termaktub dalam Surah Ali Imrah ayat 159. Allah Ta’ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah Mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
KH Ahmad Busyari menjelaskan, Rasulullah SAW bahkan berlaku lembut kepada orang-orang yang mendustakan dakwah dan menyakiti beliau. Allah memastikan hati beliau lembut.
“Hal ini sebagai sarana dakwah kepada umat,” kata KH Ahmad Busyari saat menyampaikan Kajian Dzhuhur di Masjid Istiqlal, Jakarta, dikutip Senin (18/4/2023).
Kisah perjalanan Rasulullah SAW ke negeri Thaif berdakwah dilaksanakan selama hampir 12 hari menetap, belum termasuk perjalanan pulang-pergi menempuh jarak 120 KM tanpa kendaraan, tanpa diiringi orang banyak kecuali Zaid bin Haritsah.
Penduduk Thaif menolak Rasulullah dan melempari beliau dengan batu-batuan. Di tengah perjalanan pulang, di sebuah kawasan bernama Qornul Manazil, Rasulullah didatangi Malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung.
“Malaikat gunung menawarkan untuk menimpahkan dua gunung besar yang ada di Kota Mekah kepada penduduk Thaif, tawaran ini ditolak. Justru nabi mendoakan agar dari keturunan mereka akan ada orang-orang yang Allah takdirkan menyembah-Nya,” kata KH Ahmad Busyari.
Doa Rasulullah tidak menunggu lama terkabul. Dalam peristiwa Fathu Makkah tahun ke-8 hijriyah, penduduk Thaif berbondong-bondong menyatakan masuk Islam.
“Bila baginda nabi sempit hatinya, maka tak terbayang bagaimana nasib umat yang tidak menerima dakwah beliau,” ungkap KH Ahmad Busyari.
Hati Rasulullah adalah Hati yang Pemaaf
Pada tahun kedelapan hijriyah, Rasulullah SAW datang ke Kota Mekah sebagai penakluk dan penentu nasib orang-orang yang dikalahkan. Orang-orang Quraisy berkumpul di masjid menanti keputusan Rasulullah SAW terhadap nasib mereka.
“Kemungkinannya adalah dijadikan budak sebagai konsekuensi kekalahan yang mereka alami, dibunuh sebagai hukuman atas apa yang selama ini telah mereka lakukan kepada kaum muslim atau diusir,” ujar KH Ahmad Busyari.
Akan tetapi, semua itu tidak terjadi. Rasulullah SAW tidak memperbudak, tidak membunuh, dan tidak mengusir mereka. Rasulullah SAW membebaskan mereka. Bukan hanya bebas secara status, tetapi juga bebas menentukan menerima ajaran Islam atau tetap dalam kekufuran dan kemusyrikan.
Rasulullah mengatakan, “Pergilah kalian semua, kalian sudah dibebaskan”. KH Ahmad Busyari menjelaskan, bebas yang dimaksud adalah bebas dari perbudakan dan bebas untuk memilih Islam atau menolak Islam.
Hati Rasulullah Dipenuhi dengan Rasa Keadilah
KH Ahmad Busyari menjelaskan sebuah hadits yang menceritakan seorang wanita dari Bani Makhzum melaukan pencurian. Kemudian, diputuskan tangan wanita itu harus dipotong.
Beberapa orang sahabat menyayangkan jika wanita dari suku mulia itu kehilangan tangan. Mereka mencari siapa kira-kira yang bisa berdialog dengan Rasulullah SAW untuk menganulir keputusan itu.
Rasulullah SAW lalu mengumpulkan para sahabat lalu berkhutbah di hadapan mereka. Beliau menyatakan prinsip equality before the law (kesamaan status di hadapan hukum).
“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR Bukhari no.4304 dan Muslim no.1688)
Rasulullah adalah manusia paling mulia, bahkan di kalangan para nabi yang paling mulia sekalipun. Beliau adalah manusia paling lembut hatinya, paling pemaaf, dan hatinya dipenuhi oleh keadilan.
“Satu lagi yang juga merupakan ciri beliau dan termasuk para nabi, sekalipun beliau matanya terpejam, tetapi hati beliau tetap terjaga dan tidak terputus dari Allah,” ucap KH Ahmad Busyari.
(ori)