LANGIT7.ID-, Jakarta- - Keterwakilan
Nahdlatul Ulama (NU) pada Pilpres 2024 mendatang cukup menentukan. Calon presiden (
capres) yang akan bertarung harus didampingi perwakilan NU agar mendapat dukungan yang maksimal dan berujung kemenangan.
Saat ini sudah ada dua nama yang diusulkan sebagai capres, yaitu Anies Baswedan (Nasdem) dan Ganjar Pranowo yang diusung PDIP. Ada satu lagi yang mengemuka yaitu Prabowo Subianto (Gerindra).
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi menyebut, mayoritas capres datang dari kalangan nasionalis seperti halnya Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.
Baca juga:
Inilah Sosok NU Tulen yang Layak Menjadi Cawapres"Agar bisa menang di Pilpres 2024 mendatang para capres ini membutuhkan tandem yang merepresentasikan atau memiliki kredensial dari kalangan Islam tradisional atau moderen," katanya kepada media beberapa waktu lalu.
Mengingat mayoritas penduduk di Indonesia menganut agama Islam, dia menyebut sosok Menteri BUMN yang juga Anggota Kehormatan Banser Nahdlatul Ulama (NU), Erick Thohir.
Burhanuddin juga menyebut beberapa nama seperti Khofifah Indar Parawansa, Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD .
Pengamat politik Unair, Kacung Maridjan juga menyebut, banyak tokoh NU yang potensial bisa menjadi cawapres. Ada Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim), Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB), Ali Masykur Musa (Ketua Umum ISNU).
Nama lainnya, Mahfud MD (Menko Polhukam), Yenny Wachid (putri Gus Dur), KH Said Agil Siradj (mantan Ketua PBNU) dan Syaifullah Yusuf (Sekjen PBNU). KH Cholil Nafis (MUI).
Baca juga:
Kisah Harmintono Lestarikan Aksara Jawa Lewat Penulisan Mushaf Al-QuranWakil Rektor 1 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini mengungkapkan, proses pemilihan presiden dan wakil presiden masih panjang, tahun depan. "Soal wapres, bisa jadi ada juga orang NU. Ini masih mempertimbangkan. Misalnya ada Bu Khofifah, Muhaimin, Ini masih berlanjut, panjang," katanya.
Dia juga menyebut nama-nama lain seperti Ali Masykur Musa, Mahfud MD, Yenny Wahid, Said Aqil Siradj, Syaifullah Yusuf. "Ya bisa saja nama-nama itu," katanya.
(ori)