Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Cikal Bakal Lahirnya Kota Semarang, Masjid Kauman Pernah 2 Kali Terbakar

arif purniawan Ahad, 29 Agustus 2021 - 03:00 WIB
Cikal Bakal Lahirnya Kota Semarang, Masjid Kauman Pernah 2 Kali Terbakar
Masjid Kauman Semarang memiliki sejarah panjang dalam lahirnya Kota Semarang. (foto: Arif Purniawan)
LANGIT7.ID, Semarang - Masjid Agung Semarang, atau yang banyak dikenal dengan Masjid Kauman di Jalan Alun-alun Barat nomor 11, adalah masjid berarsitektur Jawa, Persia dan Arab.

Sejarah panjang masjid ini, sekaligus jadi cikal bakal berdirinya Kota Semarang. Masjid Kauman diperkirakan dibangun pada 1575 M atau pertengahan abad ke-XVI masehi, pada masa Kesultanan Demak.

Dikisahkan, seorang dari Kesultanan Demak bernama Made Pandan, seorang maulana dari Arab yang memiliki nama asli Maulana Ibnu Abdul Salam mendapat perintah dari Raden Mas Said, atau Sunan Kalijaga untuk menggantikan kedudukan Syekh Siti Jenar, yang ajarannya dianggap menyimpang.

Dari Demak, menuju ke wilayah Barat bernama Pulau Tirangan, membuka hutan dan menyiarkan agama Islam. Dari waktu ke waktu wilayah itu makin subur dan tumbuh pohon Asam yang arang (tidak banyak), yang kemudian menjadi Semarang. Made Pandan megawali tugasnya dengan membangun masjid, sekaligus untuk pusat mengajarkan Islam.

Karena pengaruh Ki Ageng Pandan Arang semakin besar, dan pertumbuhannya meningkat, ini menarik Sultan Adiwijaya dari Pajang (Demak masih Kadipaten dari Pajang). Karena peningkatan daerah sudah terpenuhi, maka diputuskan Semarang menjadi kabupaten.

Setelah Adiwijoyo berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga, maka Ki Ageng Pandan Arang dinobatkan sebagai Bupati Semarang pertama, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal tahun 954 H atau 2 Mei 1547 M. Secara adat dan politis berdirilah Kota Semarang.

Baca juga: Masjid Cheng Hoo Makassar, Duet Tiongkok dan Timur Tengah Gaya Modern

Tak lama kemudian, Ki Ageng Pandan Arang wafat dan dimakamka di Bukit Pakis Aji. Kedudukan sebagai bupati sekaligus pemimpin dan penyebar agama digantikan oleh putranya, yang bergelar ki Ageng Pandan Arang II, kemudian atas saran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandan Arang II mengajarkan Islam ke Salatiga, Boyolali, dan ke Klaten. Beliau wafat di Bayat Klaten pada 1553 dan dimakamkan di Bukit Jabalkat.

Pucuk pimpinan pun berganti kepada adik Ki Ageng Pandan Arang II, atau Raden Ketib (1553-1586), kemudian berganti ke Pangeran Mangkubum II, dan diganti lagi Kiai Mas Tumenggung Tambi (1657-1659), Kiai Mas Tumenggung Wongosorejo (1659-1666), Kiai Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670), Kiai Tumenggung Alap-alap (1670-1674). Di masa tersebut, Kabupaten Semarang masih di bawah Kesultanan Mataram.

Pada masa pemerintahan bupati ke-10 Kiai Mas Tumenggung Judonegoro, atau Kiai Tumenggung Adipati Suro Hadimenggolo I (1674-1701) penjajah masuk. Kemudian digantikan oleh Kiai Tumenggung Adipati Suro Hadimenggolo II (1743-1751). Pada masa itu, terjadi kebakaran besar akibat pemberontakan orang Tionghoa terhadap pemerintah Belanda yang dipicu persaingan dagang oleh VOC.

Lokasi Masjid Kauman saat itu berada di Bubakan, dekat dengan Pecinan, menyebabkan masjid terbakar habis. Akhirnya Bupati Suromenggolo II mendirikan masjid itu lagi sebelah barat Bubakan, tepatnya di Alun-alun Barat Semarang (lokasi saat ini). Dengan sebelah kiri pendapat kabupaten (Kanjengan).

Baca juga: Profil Singkat Masjid Jogokariyan dan Sosok Ustadz Jazir di Balik Layar

Usaha perbaikan besar-besaran dilanjutkan pengganti Suromenggolo II, yakni Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Suro Hadimenggolo III (1751-1773). Perbaikan masjid berlangsung selama 1759-1760 dan menghasilkan bangunan yang kokoh.

Baru setelah 100 kemudian, di masa bupati Raden mas Suryokusumo (1860-1887), terjadi perbaikan masjid pada tahun 1867. Namun tak berjalan lancar akibat kurangnya pendanaan.

Berjalanya waktu, di bawah pimpinan Bupati Raden Mas Tumenggung Purbaningrat, dengan kewibawaan dan kekuasaannya berhasil mengatasi kesulitan dan memulai pembangunan kembali. Baru pada 1883, masjid ini difungsikan kembali dengan konstruksi yang cukup megah dan kuat.

Berselang 2 tahun kemudian, tepatnya 10 April 1885, terjadi musibah kebakaran dan seluruh bangunan berikut barang-barang berharga yang ada di dalamnya tidak dapat diselamatkan sehingga umat Islam saat itu berduka. Konon, kebakaran tejadi akibat tersambar petir pada malam hari.

Usaha membangun kembali masjid yang terbakar dilaksanakan pada 1889 , di masa pemerintahan Bupati Cokrodipuro, dibantu Arsitek Belanda Ir G.A Gambier. Keduanya berhasil menyelesaikan pada 1890, dan masjid bisa difungsikan kembali.

Peristiwa terbakar dan dibangunnya kembali, diabadikan dalam prasasti 4 bahasa (Arab, Jawa, Belanda dan Melayu), yang dipasang menyatu dalam bagian dinding gapura masjid.

Baca juga: Masjid Agung, Peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam

Sejak 1983, alun-alun Barat beralih fungsi menjadi pusat perdagangan tradisional, dengan adanya Pasar Johar, Pasar Yaik, Hotel Metro dan gedung BPD Jateng. Pendapa pemerintahan, masih berada di areal Kanjengan (sebelah selatan Pasar Johar). Pada tahun 1990-an, Kanjengan sudah berubah fungsi menjadi gedung bioskop dan pusat permainan game coin.

Pada 1950, Wali Kota Semarang RM Hadi Soebeno Sosrowerdojo, melakukan upaya pembangunan serambi guna menambah kapasitas tempat shalat. Ini menindaklanjuti penyerahan masjid Kauman, yang tidak menjadi urusan Bupati Semarang, karena perkembangan Semarang sebagai Kota Praja.

Di masa Wali Kota Kol H Imam Soeparto Tjakrajoeda SH (1980-1990) secara khusus memprakarsai pembangunan menara dari baja, berikut sound system dan sirine (pengganti bom udara) untuk tanda waktu Imsyak dan berbuka puasa di bulan Ramadan.

Sementara itu, Masjid Kauman di masa Bupati RM Tumenggung Purbaningrat, unruk kali pertama pada 1881, telah dikembangkan tradisi khas menyambut datangnya Ramadan yang disebut dugderan. Kegiatan ini dilatar belakangi kebiasaan masyarakat Semarang menggunakan rukyah dalam penetapan awal Ramadan.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)