LANGIT7.ID, Jakarta - Prosentase lansia Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat. Pada 2019, lansia mencapai 25,64 juta orang atau 9,60% dari total populasi di Indonesia.
Ironisnya, perempuan lansia lebih banyak dari laki-laki, sehingga mereka merangkap jadi kepala rumah tangga.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr Hasto Wardoyo, mengatakan, saat ini banyak lansia harus mendapat perhatian lebih karena kondisi kesehatan dan masalah ekonomi.
Dia menjelaskan, ada lansia yang sehat namun tidak kuat secara ekonomi. Ada pula yang kuat secara ekonomi, namun sudah memiliki masalah kesehatan yang beragam. Kelompok lansia ini yang menjadi perhatian BKKBN melalui program menjadikan lansia yang sehat dan punya modal sehingga bisa menginvestasikan kemampuan dan uangnya untuk kepentingan ekonomi produktif.
“Sedangkan untuk yang tidak sehat dan tidak mampu ekonominya maka problemnya adalah charity,” kata dr Hasto melalui keterangan tertulis, Sabtu (28/8/2021).
Baca juga:
4 Jenis Olah Raga Ini Tak Lagi Sesuai untuk LansiaHasto menjelaskan, lansia dalam kategori pertama dan kedua tadi mudah mendapatkan gangguan psikologis, sehingga butuh perhatian lebih. Dalam hal ini, keluarga memiliki perang penting. Terutama anak-anak dari lansia tersebut.
"Siapa yang akan membuat anak kita itu jadi tahu bahwa filosofi orang tua kita ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani misalnya, siapa yang akan mempertahankan itu akan bertransformasi dengan baik. Bangsa yang baik merupakan bangsa yang mempertahankan nilai-nilai luhurnya,” ucap Hasto.
Selain itu, Hasto menjelaskan, lansia pada saat pandemi biasanya mengalami gangguan kesehatan, terutama kesehatan mental karena takut terkena Covid-19. Secara emosional, kondisi pandemi tidak memungkinkan untuk mengunjungi orang tua. Untuk itu, keluarga sangat penting untuk menjaga lansia untuk terhindar dari stress.
(sof)