LANGIT7.ID-, Jakarta- - Penyalahgunaan
narkotika di kalangan generasi muda kian meningkat di Indonesia. Penyimpangan perilaku anak muda itu dapat membahayakan generasi bangsa.
Berdasarkan data Kominfo 2021, pengguna narkoba di kalangan anak muda berusia 15-35 tahun dengan persentase sebanyak 82,4% berstatus sebagai pemakai, 47,1% berperan sebagai pengedar, dan 31,4% sebagai kurir.
Dekan Faculty Leadership and Management Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Prof Dr Mohd Yahya, mengungkapkan, anak-anak muda harus didampingi secara serius agar tidak terjebak dalam pergaulan bebas. Pergaulan semacam itu bisa menjerat anak muda untuk mencicipi narkoba. Pada akhirnya bisa kecanduan.
“Jadi, ada sedikit statistik yang berlaku di Indonesia, golongan belia 19-39 tahun kelompok narkoba paling tinggi. Meningkat dari tahun ke tahun,” kata Yahya dalam seminar internasional tentang bahaya narkoba di Wisma Mandiri, Jakarta Pusat, Rabu (5/7/2023).
Baca juga:
Kominfo Telusuri Dugaan Kebocoran Data Paspor 34 Juta Warga IndonesiaSementara, angka pengguna penyalahgunaan narkoba di Malaysia mencapai 14 ribu. Angka itu diprediksi akan terus naik dari tahun ke tahun. Maka itu, penting kerjasama antara pemerintah, tenaga pendidik, sampai orang tua untuk memerangi narkoba.
“Sebanyak 14 ribu pengguna narkoba (di Malaysia). Sebenarnya kalau dilihat angka ini sangat membimbangkan karena dibandingkan penduduk Malaysia, jauh lebih kecil disbanding Indonesia. Jadi, ini akan menjadi perhatian penuh masyarakat yang terlibat,” ucap Yahya.
Maka itu, ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI, Siti Ma’rifah, mengajak orang tua jadi sahabat anak untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Peran keluarga sangat penting karena menjadi benteng kunci dari masyarakat untuk ketahanan nasional.
“Apalagi peredaran narkoba sangat memprihatinkan yang menyebar di berbagai kalangan khususnya remaja,” kata Siti Ma’rifah.
Bila tidak ditanggulangi melalui keluarga, Ma’rifah merasa khawatir bangsa ini akan kehilangan generasi unggulan. Padahal seharusnya, generasi tersebut akan menjadi tulang punggung bangsa ini.
“Karena keberadaan negara ini akan ditentukan oleh generasi muda bangsanya. Kalau generasi remaja kita banyak yang terkena narkoba, bisa dibayangkan betapa bahayanya kondisi bangsa kita pada masa depan,” tuturnya.
Maka itu, peran orang tua sangat penting untuk menjadi sahabat bagi anak. Sebab, sumber utama penyalahgunaan narkoba adalah lingkungan sekitar.
“Biasanya dimulai dari anak yang tidak bisa terbuka menyampaikan masalah pribadinya kepada keluarga. Masalah itu bisa di sekolah, teman dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Baca juga:
Kecanduan Medsos Timbulkan Risiko Depresi dan KecemasanOrang tua diharapkan bisa menjadi tempat berdiskusi dan bertanya yang nyaman bagi anak. Selain menjadi sahabat, orang tua juga diharapkan bisa menjadi teman, motivator dan komunikator yang baik bagi anak. Apabila peran orang itu tidak terlihat oleh anak, akan menyebabkan anak terperangkat ke dalam penyalahgunaan narkoba.
“Karena muncul pandangan yang salah bahwa jawaban dari persoalan-persoalan yang mereka hadapi adalah narkoba, ” jelas Doktor Hukum Universitas Krisnadwipayana Jakarta itu.
Dia berpesan, dalam lingkup keluarga, agama harus menjadi landasan utama dalam mengajarkan nilai-nilai kepada anak. “Karena amar maruf nahi mungkar dimulai dari keluarga,” ucapnya.

(ori)