LANGIT7.ID-, Jakarta- - Ustadz Ismail Al-'Alam menerangkan, budaya
digital memberikan banyak pandangan tentang realitas. Termasuk realitas diri seperti kampanye self love yang dilakukan korporasi, selebritas, influencer, dan media populer.
Self love adalah suatu keadaan penghargaan terhadap diri sendiri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Dari defenisi itu, Ismail lalu menguraikan dampak kampanye self love terhadap pribadi seorang muslim.
Ismail menjelaskan, untuk memahami dampak self love perlu kerangka pemikiran yang kokoh mengenai tiga hal. Pertama, memahami hakikat manusia dalam Islam (Al-Insan). Kedua, hakikat perbuata manusia dalam Islam.
"Ketiga, memahami self love lebih luas seperti dari sudut pandang kebudayaan kontemporer-hedonisme, etika individual, dan subjek neoliberal," kata Ismail dalam kajian yang diadakan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) secara daring, dikutip Selasa (25/7/2023).
Baca juga:
Santri Didorong Manfaatkan Teknologi Digital Guna Ciptakan Peluang UsahaDari kerangkat berpikir itu, self love dapat mengacaukan pengenalan atas hakikat diri. Ketika seseorang tidak mengenal diri akan mengaburkan pengenalan kepada Allah SWT. Ismail menyebut, hakikat manusia dalam Islam adalah sebagai 'alam, makhluk, abd', dan insan, yang tak lepas dari izin dan karunia Allah.
Ismail menekankan, self love bukan ajaran Islam. Kampanye yang lahir dari tradisi Barat tersebut berangkat dari antroposentrisme. Sehingga, jauh dari ajaran Islam.
"Apakah ajaran ini menyebutkan hakikat manusia, atau sekadar merujuk pada nafs (diri) yang terlepas dari 'abd, makhluk, dan ruh? Karena wacana dan kampanyenya lahir dari tradisi Barat, ia berangkat dari antroposentrisme," kata Ismail.
Self love juga mengacaukan pengenalan atas hakikat perbuata. Kampanye self love merespons kebiasaan menyalahkan diri sendiri sebagai suatu kegagalan di mata orang lain dan mendorong seseorang untuk menghargai dirinya.
"Yang bermasalah di sini adalah nilai-nilai komunitas yang menjadi dasar bagi afirmasi dan negasi perbuata. Bukan tindakan menyalahkan diri sendiri," ujar Ismail.
Dia menambahkan, sebenarnya seorang muslim diperintahkan untuk menjalani hidup sesuai syariat. Islam memerintahkan seorang muslim terus memeriksa diri (muhasabah) atas perbuatan, termasuk menyalahkan diri jika melanggar syariat.
"Dalam Islam sudah disebutkan Allah itu Maha Pengasuh dan Penyayang kepada hamba-Nya. Ketika kita mengenal diri menerapkan cinta Allah dan rasul sudah cukup untuk hidup yang bahagia di mana sesuai dengan fitrah berdasarkan iman yang benar, maka kita enggak perlu lagi mengeksplisitkan cinta kepada diri sendiri," ungkap Ismail.
(ori)